Saturday, June 13, 2015

Unplanned Trip

Berawal dari sebuah obrolan di dapur kosan tercinta...
Satu teman kosan lagi (Y) asik goreng bakwan, saya lagi nyuci piring, dan satu lagi (I) lagi ubek-ubek bahan masakan di kulkas. Pas itu emang kosan lagi termasuk sepi karena penghuninya lagi malala entah kemana, ada juga yang lagi pkl di Bandung.
Emang dasar obrolan (calon) emak-emak, ga tau gimana obrolan bisa sampai pada sebuah rencana jalan-jalan. 
Nentuin tempatnya?
Cuma dari 'katanya dan katanya', alhasil jadi penasaran mau ngunjungin tempat-tempat itu.
Okelah, jadi pada malam hari itu juga, tujuan kami bertiga pergi ke Dusun Bambu dan De Ranch.
Kalo ke arah Lembang, di perempatannya dusun bambu ke kanan, dan kalo de ranch ke kiri *atau kebalik ya?*
Perginya?
Kendaraan pribadi anak kosan mah yaaa angkot, bis, dan kereta. Kece lagiii... tiap hari gonta-ganti supir melulu :D
Jadilah, malam hari itu, gotong royong di dapur bikin bekel makanan untuk jalan-jalan besok pagi.
Timingnya juga diambil pagiiii hari yaitu jam 7 pagi kami chaaww dari kosan.
Untuk masalah denah dan petunjuk arah modalnya dari baca blog orang sebelum pergi dan GPS hp.
Membantu banget nyari tempat yang belum pernah dikunjungin kayak itu.
Kebetulan ngekos di Ciseke (Jatinangor), jadi track nya :
1. Dari Nangor naek Damri yang jurusan Elang.
2. Turun di terminal leuwi panjang
3. Naek bis yang ke arah terminal ledeng
4. Dari ledeng, naek angkot putih ke arah lembang (naahh bilang ke supirnya kalo mau turun di angkot yang ke cisarua, entar dibilangin da)
5. Naek angkot kuning jurusan cisarua
6. Turun di terminal cisarua (hati-hati digetok ongkosnya. Bayar aslinya cuma 5000)
7. Jalan kaki atau bisa naek ojek untuk sampai ke dusun bambu
Karena anak kosan sifatnya hemat bin murah, kami memutuskan untuk jalan kaki dari terminal ke dusun bambu. Di palangnya sih sekitar +/- 1 KM.
Aaahh deket itu mah kalo jalan bertiga.
Jreeenngg... ternyata sisa jarak 700 m nya lagi itu menanjak sampai atas. Udah gitu, pas tadi ditawarin mang-mang ojek buat ke sana, kami menolak. Ongkosnya 10.000, toh cuma tinggal 700 m lagi.
Semangat sampai akhir pokoknya mah. Saling menyemangati.
Setelah berjalan hampir 20 menit, finally, sampai juga di gerbang dusun bambu. Jam 10.37 (weekend) udah banyak juga mobil yang mengantri di gerbang. Waaww...
Di gerbang, kami bayar tiket 10.000/orang, padahal pas searching semalam harganya 15.000.
Alhamdulillah :D
Terus nanya ke pak satpam untuk masuk gerbang utamanya. Alhamdulillah kami dijemput sama mobil warna-warni untuk naek ke gerbang sesungguhnya. Gratis!
Hmmm udaranya juga sanga..sangat..segar..

(turun dari mobil)


(pemandangan dari atas jembatan)


(here we are : selfie mode on)

(samping kiri : rumah burung)
Jadi rumah burung itu kayak rumah makan. Nah untuk masuk ke dalamnya, harus reservasi dulu, baru deh dibuka pintunya. 

(danau sangkuriang)
Nah danau sangkuriang ini icon/ciri khasnya dusun bambu. Ini kayak tempat untuk kemah, dan ada tempat juga untuk naek sampan. Yang ngedayungnya : penumpangnya sendiri :D

(disuruh)
Dipaksa untuk nulis ginian sama anak-anak kosan biar jadi impian ceunah.

(kalo belum foto di sini, belum ke dusun bambu namanya)

Setelah dari sangkuriang, naek lagi ke atas. Naahh disana lebih indah lagi. Ada air terjun, taman bunga warna-warni, dan tempat piknik unik. Disediain payung untuk neduh selama piknik.

(perjalanan menuju ke atas)

(taman bunga)

(taman bunga)

(let it flow)

Hmmm penting juga untuk bawa payung, karena seringkali suasana di sana suka PHP. Kadang rintik-rintik romantis *ceileh, kadang terang benderang.
Oya selain tempat-tempat yang disebutin di atas, ada juga restoran-restoran yang menyediakan pemandangan yang "waaaah" kalau melemparkan pandangan keluar kaca.
Pas pulangnya, ga sempat pergi ke de ranch karena ga cukup waktunya.
Semoga lain kali bisa pergi ke de ranch (mau belajar nunggang kuda) :D

Happy Holiday~

Friday, June 12, 2015

Pertemuan, (tanpa) perpisahan


Bismillah...

Akhirnya kita kesampean juga ya foto bareng dan makan bareng-bareng. Udah diagendain dari 2 minggu kemarin, tapi susaaahh banget nyari waktu yang pas. Dua orang ikut kelas apoteker gel 2 (riweuh menjelang PKPA) dan 5 orang ikut kelas apoteker gelombang 1 (riweuh ujian-ujian kelulusan), tapi alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan untuk kita kumpul bareng sebelum akhirnya pada mencar-mencar setelah apoteker ini.
Dimulai dari foto-foto di Jonas dan makan-makan bareng di SS, sayang.
Benar-benar kesempatan yang "langka" anak farmasi bisa hang out kayak gini. Hahaha...

We shared our dreams and all stories, and of course the future.
Ternyata ada beberapa yang udah siap melangkah dan menyiapkan "agenda" masa depan, dan masih ada juga yang abu-abu.
Hmmm klo saya masih termasuk yang abu-abu.
It depends to Allah...
Akhir dari cerita kami : Sebaik apapun manusia merancang masa depannya, semuanya harus dikembalikan lagi ke Allah. Allah knows the best! Rencana Allah yang paling baik.

Pas lagi nulis blog ini, selintas ingat beberapa lirik yang pas dengan pertemuan kali ini. :
"Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini"

Kalau nanti kita belum bisa reunian lagi di bumi-Nya, semoga kita bisa reunian lagi di jannah-Nya.
Aamiin :)


Sincerely,
Adila

Ana uhibbukum fillah


Monday, May 11, 2015

Bisnis dan Hikmahnya

Malaaammm...
Gini hari sebenarnya lagi ngerjain tugas khusus PKPA dari RS, tapi saat saya nyalain hp yang habis di cas, masuklah sebuah SMS *sekarang banget*.
Dengan malasnya saya buka sms yang masuk. "aaahh paling dari provider yang mau ngasih tau kalo kuota internet udah mau habis (-.-)".
Ternyata saya salah.
Sms yang masuk dari nomer yang ga diketahui. Dengan cermat saya baca sms itu. Sempat kepikiran juga "aahh paling dari PT. Blablabla yang ngasih tau kalo saya menang undian blablabla".
Ternyata salah lagi.
Kali ini beneran serius baca sms nya. Awal sms nya udah "Assalamu'alaykum". Waahh ini sms serius!
Lanjut lagi mata mengikuti setiap huruf yang tertera di layar hp, sambil menyipitkan mata, biar ga salah baca.
Gini sms nya :

"Assalamu'alaykum. Mbak Dila, ini saya ****** tetangganya ******. Mbak klu pesan kerudung jumlahnya ******* ada discount nggak mbak? Makasih".

Haaa seriusan itu? Jumlahnya juga lumayan banyak :D *langsung teriak sambil mulut mingkem.
Maklum udah malam gini, jangan teriak nanti tetangga kamar kosan bangun.
Habis teriak mingkem gitu, saya terharu.
Allah memberi rezeki dari arah yang tak terduga.

Hubungannya sama hikmah bisnis apa dong?
Eheemm menurut saya *opini saya ya
Himkah berbisnis :

Bisnis itu adalah salah satu jalan menjemput rezeki yang sudah Allah persiapkan untuk masing-masing hamba-Nya. Percaya deh rezeki itu tak akan pernah tertukar. Banyak orang yang mengkhawatirkan akan datangnya rezeki, tapi luput ibadahnya yang mana yang selama ini Allah terima dan ridhai.
Ingat, rezeki itu mungkin saja efek samping (maklum anak farmasi) dari ibadah-ibadah yang selama ini dilakukan secara IKHLAS :D

Dinamika seorang pebisnis itu seperti naik roller coaster. Ketika udah berasda di puncak dan akan melewati lintasan yang menurun, orang-orang pasti akan teriak (aaaaa kenapa omzetnya mulai menurun).
Eh, ketika dalam kecepatan tinggi dan melalui lintasan yang menanjak, orang-orang akan teriak juga (aaaaa alhamdulillah omzetnya naik lagi).
Belum lagi, ketika berputar-putar di lintasan yang melingkar. Wuusshh begitulah gambaran berbisnis.
Pusing iya, mual apalagi *jujur ini mah.

Saat omzet menurun, kita menjadi instropeksi diri. Allah sedang cemburu dengan bisnis yang kita jalani. Allah diduakan :'( , Allah Maha Pencemburu (catet!)
Saat omzet naik, kita menjadi ahli syukur (aamiin), ingat Allah Maha Kaya. Psstt jangan lupa sedekah (y). Ada hak milik orang lain di harta kita loohh.

Yaaapp segitu dulu cerita malam ini.
Sleep early, wake up earlier.

Salam,
Adilannisa

Mahasiswi yang lagi PKPA di RS 
yang beberapa bulan lagi sidang profesi,
dan masih juga menjalankan bisnisnya.


(instagram : @syar_i_s_cool)

Wednesday, March 25, 2015

(Tak) Bisa Mendua

Entah kenapa akhir-akhir ini aku terkenang masa-masa muda (sekarang juga masih muda kok) saat di bangku SMA. Setelah sebelumnya aku terkenang awal pertama hidayah datang untuk sadar bagaimana seharusnya jadi muslimah sejati (ada di tulisan yang bawah), dan di malam yang dingin ini setelah hujan reda dan angin malam yang menemani aku seorang diri untuk berbagi cerita dengan para pembaca.

Bismillah...
Hehehe judulnya tumben-tumbenan begini. Maklum suasana mendukung :D
InsyaAllah isinya pun juga begitu.
#DOR
#PadaMikirnyaApaNih

Jadi, dulu ada saudara seiman (perempuan) yang aku lihat lagi falling in love gitu sama Al-Qur'an. Kalau lagi seperti itu, rasanya aku mau support habis-habisan untuknya untuk mencapai nikmat iman, Islam, dan ukhuwah.  Duuhh kalau dibayangin 3 nikmat itu rasanya susah digambarkan. Hati bawaannya senang terus dan jauh-jauh deh pikiran negatif. Aku mau dia ngerasain juga. Kan surga itu terlalu luas untuk dimasuki sendiri bukan?
Aku sempat terfikir dan tergerak untuk langsung memberikan Al-Qur'an yang aku punya untuk dia. Biar pas itu juga dia baca Qur'an di dalam kamarnya selepas shalat maghrib dan tenggelam dalam ayat-ayat cinta.
Tapi, hati aku berat rasanya untuk memberikan Al-Qur'an yanga ada di genggaman tanganku. Ada sesuatu yang mencegahnya T.T
Bukan karena Al-Qur'an yang aku punya itu tampaknya sudah buruk, lecek-lecek, dan ga layak diberikan sebagai hadiah, tapi ada alasan lain yang sangat berat untuk melakukannya.
Ketika itu aku seperti memasuki lorong waktu di tahun 2009 pas masih zaman SMA kelas 2.
(zaman masih muda)

SMA aku dulu mewajibkan untuk tadarus Al-Qur'an setiap hari Jum'at pagi sebelum memulai pelajaran. Yup, wajib untuk seluruh kelas, bagi yang non-Islam bisa memilih untuk di dalam kelas atau ke ruang kelas lain yang kosong.
Hahaha... saat itu aku berebut mengambil Al-Qur'an yang ada di lemari kelas, dan pastinya jumlahnya terbatas. Kadang dapat, kadang enggak.
Kalo ga dapat, yaaa jadinya minjem ke teman sebelah, jadi bacanya 1 Al-Qur'an berdua. Duduknya mah perempuan sama perempuan. Kesel juga sering ga kedapetan Al-Qur'an. Mau bawa dari rumah, adanya yang ukuran gede. Berat jadinya.
Akhirnya kalo gini terus (sering ga kedapetan) aku putuskan untuk punya Al-Qur'an sendiri.

Ketika lagi pergi bareng-bareng sama keluarga ke toko buku, aku pergi ke rak-rak yang khusus nyediain Al-Qur'an. Terus aku pilih yang lucu sampulnya dan enak hurufnya untuk dibaca.
Akhirnya aku pilih yang sampul kulit warna pink-ungu dengan kancing magnet, walau sebenarnya aku suka warna biru (ga ada pas itu warna birunya). Harganya juga cukup mahal.
Pas aku bilang ke mama mau minta dibeliin Al-Qur'an itu, mama nanya 1 pertanyaan yang berat.

"Emang bakal dibaca terus tuh Al-Qur'annya?" mama nanya dengan nada serius.
#jleeebbb
#BerfikirLama
#BaruSadarIyaJugaYaaaa
#KenapaBaruKefikiranSekarang
Terus aku meng"azam (tekad)"kan dalam diri : InsyaAllah Al-Qur'an ini menjadi Al-Qur'an pertamaku dan akan selalu aku baca.
"InsyaAllah ma" jawab dengan singkat.

Taraaa dengan hati riang gembira aku menanti-nanti hari Jum'at. Pas tiba harinya aku tenggelam dalam tadarus Al-Qur'an di SMA.

Dari lorong waktu itu, cerita tersebut adalah alasan kenapa hati aku berat memberikan Al-Qur'an aku kepada orang lain, walaupun sebenarnya bisa saja aku membeli Al-Qur'an yang lain yang lebih bagus dan cantik. Ya kan?
Karena azzam 6 tahun yang lalu, sampai saat ini aku tak bisa menduakannya.

Al-Qur'an ku, engakaulah kelak yang akan menjadi penerang kuburku.
Di akhirat nanti akan kujumpai engkau dalam bentuk yang seindah-indahnya.

Jakarta, 25 Maret 2015
-dengan beberapa tetes air mata-

Saturday, March 14, 2015

Tulisan di pojok ruangan

Malam ini saya diminta untuk menuliskan sebuah pesan untuk temannya teman saya yang baru menutup aurat (pakai kerudung). Kebetulan dia mau menghadiahkan kerudung yang saya produksi untuk temannya. Terus bingung lah mencari kata-kata yang tepat.
Akhirnya saya ubek-ubek google, mulai dari web dan gambar yang muncul setelah diketik keywordnya.
Daann pada web kesekian yang saya buka, muncullah kata-kata yang "pas" untuk muslimah yang baru hijrah. Kalimat yang tertera di webnya juga membawa saya pergi ke tahun 2009 silam, saat saya masih kelas 2 SMA.
Kenangan itu memang indah ^^

Saat jam istirahat sekitar jam 12.15 dan kebetulan adzan zuhur sudah berkumandang, perempuan remaja itu dengan seorang diri pergi ke mushala sekolah di pojok gedung.
Ia seorang diri bukan karena tidak ada yang mau berteman dengannya atau pergi shalat bareng, tapi karena ia terlalu asik dengan aktivitasnya di kelas saat jam istirahat, yaitu makan. Teman-teman yang lain sudah pergi sejak awal ke mushala dan menunda untuk mengisi perutnya, tetapi perempuan ini tidak.
Setelah mengambil wudhu, masih dengan muka yang basah, ia mengancingi lengan baju seragam sekolah, becermin untuk membetulkan sehelai jilbabnya, dan mencari-cari mukena di lemari kayu yang cukup besar menurutnya saat itu.
Ini sudah satu bulan ia hijrah untuk memakai jilbab saat kelas dua semester dua. Biasa saja pikirnya kala itu. Hanya berubah penampilan saja.
Dekat lemari mukena, ia menangkap sebuah kertas putih dengan laminating yang tertempel di dinding. Ia membacanya sejenak. Judulnya "Akhwat Sejati".
"apa itu akhwat?" tanyanya ke diri sendiri.
"ooohh kata 'akhwat' yang suka nempel-nempel di dinding tempat wudhu. Berarti artinya perempuan." sejurus kemudian ia menjawab pertanyaannya sendiri.
Ia mulai membaca perlahan tulisan warna warni tersebut. Memang menarik mata :)

Begini tulisannya :

Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.

Anakku…
- Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya. Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
- Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
- Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.
- Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.
Ketahuilah putriku…
- Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

- Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
- Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah…

-Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!” 
Sang anakpun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”. 

Setelah membaca tulisan tersebut, ia menjadi instropeksi dan bertanya kepada diri "beginikah seharusnya seorang muslimah?".
Kemudian ia lanjut untuk shalat zuhur dan di hari-hari selanjutnya, tulisan di pojok ruangan tersebut menjadi tempat favoritenya untuk membaca dan memahami setiap kata yang tertulis di kertas laminating itu.
Tidak hanya sampai di sana saja, ia pulang ke rumah dan mencari tulisan lain di link yang tertera di kertas favoritenya. Kemudian ia menyebarkannya di blog maupun di facebook (saat itu masih "asing" medsos facebook).
Semenjak pertemuannya dengan kertas tersebut, ia mendapatkan hidayah.
Perempuan remaja itu adalah saya :)

*terima kasih kakak-kakak ROHIS SMAN 12 JAKARTA yang sudah membuat dan menempelkannya di dinding mushala perempuan (siapapun itu pelakunya ^^) "

Psstt... kelas 3 SMA saya sudah mulai panjang jilbabnya dan berlapis dua. Alhamdulillah nyaman banget.
Jadi, salah untuk teman-teman yang mengira saya sudah memakai kerudung panjang sejak dari SMP atau awal SMA ^^

Hidayah itu harus dicari ya, bukan ditunggu.


Saturday, February 7, 2015

Castelul Peles, Brasov (end)

Bismillah...
In the name of Allah The Most Merciful.

Alhamdulillah, di sela-sela kesibukan saya dalam berwirausaha kerudung (sekarang lagi mengambil kuliah profesi apoteker di UNPAD), saya kangeeennn ingin nulis lagi. Terlalu banyak hal-hal berharga yang sayang jika tidak dituangkan ke dalam tulisan -untuk dikenang-.
Mungkin ini tulisan terakhir saya tentang pengalaman di Romania :'(

Ini hari kedua saya di Brasov (7 September 2014).
Kali ini pergi ke Castelul Peles (Peles Castle). Perjalanan ke istana ini saya angkat ceritanya menjadi cerpen yang dilombakan di BILQIS 5. Padahal ini cerpen pertama yang saya buat, pengalaman pertama, dan menjadi juara pertama :D

Dimulai dari saya selesai shalat subuh (baru subuh jam 05.45 waktu Romania).
Kemarin janjian dengan Nanes, kita berangkat jam 07.00. Dia ingetin juga untuk pakai jaket yang tebal. Selama di sana lagi musim peralihan dari summer ke autumn. Ya sudah, saya siap-siap untuk shalat dan mandi. Saya sekamar berdua sama Arantxa. Enak banget laaahhh penginapannya. Kenyamanannya sebanding sama harganya. Selesai mandi (saya pakai kerudung di dalam kamar mandi), saya bangunin Arantxa. Tapi, mungkin maklum bule, dia ga mandi. Katanya dingin. Padahal bisa air panas juga. Semalam, saya ngobrol sama Arantxa. Dia kaget ketika saya (Muslim) diwajibkan untuk shalat 5x/hari dan terjadwal jam-jamnya. Dia salut sama ibadah muslim.
Jam 06.50, Nanes udah ketok-ketok pintu kamar kami. Tepat janjinya. Coba orang Indonesia gitu. Oya sepulang dari pertukaran pelajar ini, saya jadi on time malah bahkan "before time". Simpel sih sebenarnya kalau mau ngelatih sifat "on time", latih saja waktu shalatnya.
Kami pergi naek kereta, dan sehabis itu jalan ke castlenya. Ada cerita seru niihh...
Pagi hati itu saya cek suhu. Kalo di dalam rumah suhunya hangat, tapi ketika di luar, bbbrrrr ya ampuuunnn 7oC. Ampuunn pun pun, lebih dingin dari Cluj Napoca. I can't feel my feet. Di depan pintu gerbang, Nanes menelepon taxi untuk nganterin kami ke stasiun kereta api. Wuuusshhh dalam waktu kurang dari 5 menit, taxinya sampai di tkp. Selagi nunggu taxi, Nanes nunjuk tulisan Brasov di atas bukit. Model-model Hollywood gitu. Nah nanti kami bertiga akan mengunjungi tulisan tersebut.
Sampailah kami di stasiun kereta api. Langsung beli tiket dan mencari mesin minum. Aku minum kopi untuk menghangatkan badan. Beli tiketnya di lantai 1, dan tempat tunggunya di lantai 2.
Kami duduk berhadapan dengan pintu kaca geser, jadi kalau kereta udah datang, bisa kelihatan. Hihihi ada cerita menarik dan lucu selagi nunggu kereta.
Posisi duduknya dari kiri ke kanan = saya, Nanes, Arantxa. Ga berapa lama, seorang nenek2 datang melewati depan kami dan duduk selang 2 kursi. Kalo udah tua, perempuan di sini wajib pakai head cover. It's like a veil (kerudung). Beberapa menit kemudian, saya merasa ada yang mengawasi dan melihati. Saya cari-cari sumbernya, ternyata nenek itu. Saya lirik ke arah neneknya, terus nenek itu berhenti (kepalanya seperti semula). Setelah saya ga melihat lagi, nenek itu melihat ke arah saya lagi. Hahaha curi-curi pandang gitu. Untung bukan laki-laki yang kayak gitu :D
Masih terlihat aneh wanita yang berkerudung di Romania.
(udah di dalam kereta. Ada tulisan Brasov)
Let's explore Brasov...
Lama perjalanan sekitar +/- 1,5 jam. Sepanjang perjalanan saya melemparkan pandangan ke luar jendela. Masya Allah, You are the best Creator ever. Kiri kanan diapit oleh pegunungan Carphatian. Penuh dengan pohon cemara. Kurang lebih kayak gini pemandangannya (diambil dari google). Saya lupa foto saking asiknya menikmati pemandangan di luar sana. Hehehe...
(Carphatian Forest)

Di dalam kereta pun ga ada pemanas, jadinya dingin, perkiraan suhunya 5 derajat Celcius. Untung saya pake celana laging (yang lebih diprioritaskan untuk lebih menjaga aurat) dan manset tangan. Tuh kan apa yang diperintah Allah benar-benar ADA manfaatnya :D
Setelah menikmati pemandangan, eng ing eeeenngg saya tertidur di kereta (duduk di dekat jendela). Kata orang-orang sih saya pelor (nempel terus molor). Udaranya mendukung juga sih sampai-sampai ujung hidung dingin.
Setelah sampai di statiun, kami turun dan mulai menjelajah perjalanan menuju Castelul Palace. Dari statiun ke palace-nya ditempuh dengan berjalan kaki menaiki hutan tersebut, alhamdulillah badan jadi hangat. Tapiiii lumayan nyesak di dada juga karena semakin tinggi tempat, kadar O2 juga semakin menipis.Jadi kadang berhenti-berhenti sebentar untuk menormalkan pernafasan. Sepanjang pendakian, ada 1 anjing yang setia menemani kami sampai ujung jalan terakhir (udah dekat palace).

(go straight and you'll find the palace. It's about 500 meter)

Pas lewat jalan itu, baru ada beberapa pedagang yang membuka lapaknya. Lagi tahap siap-siap. Kemudian lanjut jalan lagi...
Taraaaa finally, sampai juga di castelul palace. It was such a beautiful palace.
(entrance)

(castelul palace)

(sedikit2 berhenti untuk ambil foto :D )

(there was a cafe on the corner)
Lanjut jalan lagi ke atas, akhirnya sampai juga di castelul palace (lucu pengucapannya oleh orang Romania).

Di sini, saya mengabadikan video yang direkam dari tab saya dan pakai tongsis biar kelihatan sekelilingnya. Yaaaa banyak turis-turis asing yang berkunjung ke sini. Dimulai dari Belanda sampai yang sipit-sipit (Jepang dan China). Saat take video ada beberapa turis yang sedari tadi merhatiin saya. Dalam hati 'biarin ajaaa.. kapan lagi kesempatan untuk ambil video di sini'. Jadi saya take video sambil nahan malu sebenarnya. Selesai take video, tiba-tiba ada turis laki-laki yang entah dari negara mana, menghampiri saya. Dia meminta saya mengulang cara saat take video tadi. Haaaa ada apa gerangan?
Terus saya tanya untuk apa, dia bilang, dia mau ambil ngerekamnya. What?!?!
Selesai saya mengulang, dia terheran-heran sama tongsis yang saya pakai. Hahahahaha......
Mr. X : What is that? *sambil nunjuk tongsis
Me     : It's stick, in Indonesia called tongsis.
Mr. X : Cool. It's my first time to see it. Oke, thank you for your video. Bye.
Habis itu saya lari ke Nanes dan Arantxa untuk menceritakan kejadian tadi. Mereka bilang : your stick is celebrity in here. Akhirnya kami masuk untuk membeli tiket masuk sambil ketawa-ketawa mengingat kejadian tadi.
(gerombolan orang itu sedang mengantri untuk masuk ke palace)


(terkagum dengan desain dan lukisan dindingnya)

Oya, jenis tiketnya tergantung kita mau ambil palace tour sampai lantai berapa. Kalo ga salah, istana ini ada 4 lantai. Kalo sampai 2 lantai tour-nya harganya lebih murah yaitu 12 Lei. Jadi kami memilih tour sampai lantai ke-4. Harga tiketnya sekitar 15 Lei = 15 x 3500 = Rp 52.500. Kalo mau take photo bayar lagi sebesar 25 Lei (87.500) dan take video harganya 50 Lei (165.000). Jadi saya pilih yang 15 Lei aja. Selesai membeli tiket, kami mengantri untuk masuk ke dalam palace. Tour guidenya juga terspesialisasi dalam hal bahasa yang mereka kuasai. Ada sekitar 5 jenis bahasa, saya masuk ke yang bahasa Inggris. Para turis diharuskan memakai slipper (sendal kain) sebagai shoes cover.
(lagi nunggu antrian yang panjang, duduk dulu)

Psstt bisa dilihat hikmah perjalanan ke catelul palace ini dalam bentuk cerpen di http://adilannisa.blogspot.com/2014/11/cerpen-refleksi-jiwa-di-istana-surgawi.html ..
Masya Allah dalamnya wah2 sekali. Berlapiskan emas, tapiii seremnya itu banyak patung-patung gede. Kadang juga ada lukisan-lukisan orang bugil di suatu ruangan. Sebisa mungkin alihin pemandangan ke meja, kursi, tempat tidur, dll. Ada juga 3 pintu rahasia yang kayak di film-film itu loohh.. Kalo digeser bukunya atau ditekan suatu tombol di ukiran dinding, maka akan terbuka pintunya yang akan langsung masuk ke ruang tidur putri kerajaan. Tour guidenya mempraktekan :D
Selain itu ada juga lift yang tersembunyi, ini juga taunya karena dikasih tau sama tour guide. Belum lagi melihat kemewahan yang lain *namanya juga kerajaan*. Lama touring sekitar 2 jam.
(selesai touring)

(belakang ini ada taman kerajaan)

(I feel free)

(captured by me)

(taman kerajaan, masih luas lagi)

(little palace)
Samping istana tadi, ada lagi istana kecil tempat raja dan keluarganya menikmati hari. Ini lebih sederhana segala perabotannya. Harga tiket masuk ke sini juga lebih murah. Kalau readers pernah mainan komputer The Sims 3, kirang lebih mirip cat dan ukiran-ukirannya kayak mainan itu.
Kemudian kami menelusuri jalanan pergi tadi untuk ke statiun kereta api. Sambil menuju jalan balik, saya sempat beli beberapa oleh-oleh dari castle ini. Harganya menurut saya ga terlalu mahal atau murah.
(sekarang jalanan masuknya yang tadi penuh dengan pedagang-pedagang)

(stasiun kereta api)
Kami akhirnya ga jadi naik kereta api karena kami telat sekian menit, dan baru ada lagi sekitar 1 jam. Jadinya, pulang pakai bis. Harganya ga terlalu berjauh beda. Kemanapun saya melangkah, orang-orang bule pasti melihat ke arah saya. Lalalala~

Lanjuuttt,,, kami sampai di kota Brasov jam 13.00. Nanes (teman dari Romania) ngajak kami nyobain makanan tradisional Romania. Berkuah gitu. Kami makan di restoran terbuka di pinggir jalan.



(bisa dilihat nama restorannya)

(saya memilih ciorba de legume)
Ingat! sebelum menentukan pilihan pesanan, jangan lupa tanyakan "detail" ke orang yang ngerti. Kalo saya menanyakan ke teman romania saya. Saya minta dia menanyakan ke pelayannya apa penggorengannya bercampur dengan penggorengan bekas babi atau nggak. I want to make sure. Pokoknya itu penting loohh, ga mau kan di darahnya ngalir darah yang haram?

(Ciorba -romanian traditional food-)

(let's eat! )
Liat kan ada semangkuk kecil warna putih? Itu kayak semacam mayonnaise. Jadi mayones dicampur ke soupnya. Rasanya? Lumayan enak juga. Tapi pastinya rasa rempah-rempahnya lebih berasa di masakan Indonesia. I love Indonesian food.

Perjalanan masih berlanjut lagi, kami diajak pergi menelusuri kota Brasov. Pergi ke benteng pertahanan bekas perang, terus ke puncak brasov, ke narrowest way in Europe, dan ke city central. Fiuuhh semuanya ditempuh dengan jalan kaki. Kebayang kan capeknya? Oke saya lebih banyak tampilin foto-foto penjelajahan ya...

(bentengnya panjang mengitari kota Brasov)

(lagi istirahat untuk ke puncak Brasov)

Sebenarnya perjalanan ke puncak Brasov bisa dengan jalan kaki macem hiking. Tapi ga mungkin. Tinggi hingga ke puncaknya sekitar +/- 950 mdpl. Akhirnya kami naik kereta gantung untuk sampai ke puncak.
Aaannddd here we are... on the top of Brasov
(puncak)




Pas di puncak, saya melihat ada gua yang terbuka dan ada patung bunda Maria, terus ada bekas bouquet bunga yang diletakkan di dekat patungnya.

Next, pergi ke jalanan paling sempit se-Eropa.

(secret way)
Kata teman yang romania, banyak turis-turis yang berkunjung ke Brasov tapi sedikit yang tau tentnag jalanan kecil yang ada di foto tersebut. Itu jalanan dekat benteng yang memagari 1 Brasov. Lucky me... Makasih Nanes udah mau kasih tau secret way in Brasov :)

(city central)
Tadi habis dari puncak Brasov (liat kan tulisan Brasov warna putih yang di atas sana?)

(kanan kiri lebih banyak tempat makan dan nongkrong)

Taraaaaaa~ sampai juga akhirnya di narrowest way in Europe :D
Lucky me...
Namanya strada sforii. Mungkin untuk jalanan tersempit masih menangan Indonesia. Lihat aja gang-gang senggol di Indonesia, ga terhitung jumlahnya. Hehehe...

(strada sforii)

(pas masuk strada sforii)

(Black Church)

(Black Church)

(city central)

Alhamdulillah perjalanan hari ini selesai, lalu saya sendiri kembali ke penginapan dengan taksi (Arantxa dan Nanes masih jalan-jalan di city central). Saya balik duluan karena belum shalat zuhur + ashar (di-jama'). Di sekitar city central ga ada prayer room. Selain itu saya mau mengemaskan koper untuk kepulangan besok ke Malaysia dan ke tanah air Indonesia.
Saya besok berangkat jam 14.30 dari kota Bucharest yaitu di Henri Coanda airport.
Bye-bye Brasov...

(waiting room in Henri Coanda airport)

and it's the end of my story in Romania. Thank you Romania for colouring my life.