Sunday, July 17, 2016

Kalau Mau Anak Hebat, Orang Tua Harus Berubah by Rhenald Kasali

Saya sebenarnya sangat tertarik pada cerita dosen Unair yang sayang saya tak tahu namanya. Di beberapa WhatsApp saya baca rekaman momen yang dia catat saat menerima seorang siswa SLB yang mencari alamat. Dari Jogja, anak SLB itu ditugaskan gurunya mencari alamat di Surabaya.

Itulah penentuan kelulusannya. Dosen tadi merekam momen itu yang menyebabkan kebahagiaan si siswa. Sewaktu didalami, pak dosen mencatat, anak itu tak boleh diantar, tak boleh pakai taksi atau becak. Harus cari sendiri walau boleh bertanya. Ya, seorang diri.


Saya pikir di situ ada tiga orang hebat. Pertama adalah gurunya yang punya ide dan berani ambil risiko. Bayangkan, ini siswa SLB dan kalau dia hilang, habislah karir pak/bu guru itu. Apalagi kalau dia anak pejabat atau orang berduit. Kata orang Jakarta, ’’bisa mampus’’. Saya sendiri yang menugaskan mahasiswa satu orang satu negara pernah mengalami hal tersebut.

Kedua, orang tua yang rela melepas anaknya belajar dari alam. Ya, belajar itu berarti menghadapi realitas, bertemu dengan aneka kesulitan, mengambil keputusan, dan berhitung soal hidup, bukan matematika imajiner. Belajar itu bukan cuma memindahkan isi buku ke kertas, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi aneka ketidakpastian.

Orang tua yang berani melepas anak-anaknya dan tidak mengganggu proses alam mengajak anak-anaknya bermain adalah orang tua yang hebat. Memercayai kehebatan anak merupakan awal kehebatan itu sendiri.

Ketiga, tentu saja si anak yang bergairah mengeksplorasi dan ’’membaca’’ alam. Anak-anak yang hebat adalah anak-anak yang berani keluar dari cangkangnya. Keluar dari rahim, dari selimut rasa nyaman, tidak lagi dibedong, digendong, atau dituntun. Berjalan di atas kaki dan memakai otaknya sendiri.

Otak Orang Tua

Tetapi, yang terjadi selanjutnya adalah sebuah tragedi. Semakin kaya dan berkuasa, orang tua semakin ’’menguasai’’ anak-anaknya. Pasangan diatur dan dipilih orang tua, jurusan dan mata kuliah, bahkan siapa dosennya, lalu juga di mana bekerja. Ini sungguh sebuah kelas menengah yang sudah kelewatan.

Bahkan, begitu bekerja, kita menemukan sosok-sosok yang, maaf, ’’agak bodoh’’. Katanya lulusan universitas terkenal, IPK tinggi, tetapi sama sekali tidak bisa mengambil keputusan. Dan di antara teman-temannya, mereka dikenal sebagai sosok yang tidak asyik, sulit ’’linkage’’ atau mingle dengan yang lain.

Setelah tinggal di mes, teman-temannya baru tahu. Ternyata, beberapa hari sekali ’’mami’’-nya menelepon dan nangis-nangis karena merasa kehilangan. Nasihat ’’mami’’ banyak sekali dan si anak terlihat takut. Disuruh nego soal gaji, dia pun nego, padahal kerja baru seminggu dan belum menunjukkan prestasi apa-apa. Begitu disuruh mami pulang, pulanglah dia tanpa izin dari kantor.

Anak saya sendiri sejak SMP sudah dididik mandiri. Maka saat di SMA, dia sudah tidak sulit mengambil keputusan. Bahkan saat kuliah di negeri seberang, dengan cepat dia bisa memilih tempat tinggalnya. Sedangkan anak seorang pegusaha butuh dua bulan. Waktu saya tanya mengapa, dia jelaskan bahwa setiap kali anaknya dapat rumah, ibunya menganulir.

Saya bayangkan betapa rumitnya pesta pernikahan anak-anak yang orang tuanya seperti itu. Tanpa disadari, mereka membuat otak anak-anaknya kosong, terbelenggu, tak terlatih. Semua itu adalah otak orang tua, bukan otak anaknya.

Namun, ketika kolom tentang dagelan orang tua saya tulis beberapa hari lalu itu beredar luas lewat media sosial, saya punya kesempatan untuk ’’membaca’’.

Mayoritas pembaca tertampar ketika dikatakan bahwa anak-anaknya hebat, tetapi telah merusaknya dengan memberikan pengawalan ’’superekstra’’. Namun, saya juga menemui orang tua yang bebal, yang mengancam saya harus diperiksa KPAI karena mereka menganggap anaknya yang sudah mahasiswa masih ’’di bawah umur’’.

Bahkan, ketika saya katakan, ’’Jangan Latih Anak-Anak Dijemput KBRI’’, mereka protes dengan dalih KBRI itu dibiayai negara, untuk melindungi anak-anak mereka. Ada juga yang sangat takut anaknya kesasar, jadi korban perdagangan manusia, diperkosa, dan seterusnya.

Terus terang, mereka itulah yang seharusnya berubah. Takut berlebihan bisa membuat anak-anak ’’lumpuh’’ dan bermental penumpang. Anak-anak itu merasa akan selalu pintar kalau di sekolah juara kelas. Padahal, pintar di sekolah tidak berarti pintar dalam hidup.

Kalau memang lokasi kunjungannya berbahaya, tentu bisa dipelajari. Anak-anak kita, khususnya mahasiswa (bahkan kelas 2–3 SMA), bisa diajak membaca lingkungan. Orang tua bisa memberikan advis, bukan mengambil keputusan.

Tetapi, harus saya katakan, melatih anak-anak berpikir dan mengambil keputusan sedari muda amatlah penting. Sepenting membangun pertahanan dan keamanan negara, kita butuh penerus yang cerdas dalam menghadapi kesulitan dan ketidakpastian. Sebab, itulah situasi yang dihadapi anak kita kelak pada abad ke-21 ini.

Saya juga dapat pesan dari guru besar perempuan UI yang disegani dan dari bupati Trenggalek. Dari guru besar UI, saya mendapat cerita bagaimana pada usia SMP dia sudah ditugaskan ayahnya menyusul sendiri ke Padang. Di sana, ayahnya yang tentara mendapat tugas baru. Dia pun harus mencari sekolah sendiri dan mendaftar sendiri.

Lalu, ketika setahun tinggal di sana, ayahnya ditugaskan panglima untuk tugas belajar ke Amerika Serikat. Tinggallah si anak harus merajut hidup dengan bekal seadanya di kota yang belum dia kenal. Tetapi, hasilnya, dia menjadi pemikir yang dikenal kaya dengan empati, bukan tipe manusia berwacana.

Sementara itu, dari Bupati Trenggalek Emil Dardak, saya mendapat proof bahwa apa yang dididik orang tua pada masa kecilnya amat bermanfaat untuk mengantarnya ke tugas hari ini. Ayahnya, Hermanto Dardak, mantan wakil menteri PU, sering mengajak Emil ke luar negeri kalau ada undangan seminar. Sesampai di kota itu, Emil ditugaskan jalan-jalan sendiri mengenal kota.

Emil menulis melalui WA ke saya, ’’Saya beruntung punya orang tua yang kuat jantung dan beri kesempatan untuk membangun masa depan yang saya mampu jalani, meski berisiko.’’ Anda tahu, bupati muda ini meraih gelar doktor dari Jepang pada usia 22 tahun.

Perjalanan hari ini membentuk anak-anak kita pada hari esok. Saya harap orang tua kelas menengah siap berubah. Janganlah khawatir berlebihan. Berikanlah kepercayaan dan tantangan agar mereka sukses seperti Anda. Sebab, rumput sekalipun, kalau tak tembus matahari, akan berubah menjadi tanah yang gundul.

Visualisasikan Mimpi

"Jika kamu mempunyai mimpi, visualisasikanlah. Jangan biarkan ia tertidur dalam angan-angan semata" -Dila

Dulu, aku masih mahasiswa S1 di tahun 2014. Aku mempunyai agenda rutin setiap minggu pagi di Salman ITB. Aku kuliah di UNPAD Jatinangor. Sudah biasa anak-anak Jatinangor mondar-mandir ke Bandung dengan menggunakan  bis damri yang lama perjalanannya +/- 1 jam. Berangkat sendiri, pulangpun sendiri (kasian). Suatu hari, sebelum agenda dimulai (ceritanya datang agak kecepatan), aku iseng-iseng untuk berjalan-jalan sendiri di sekitar salman dan menemukan sebuah toko yang menjual makanan dan minuman ringan sejenis koperasi gitu nampaknya. Aku memutuskan untuk membeli beberapa cemilan untuk mengisi perut di pagi hari dan saat ingin membayar di meja kasir, mata ini menangkap sebuah benda lucu yang berjejer rapih. Ada gantungan kulkas, pin, gantungan kunci, dll yang serba ITB. Kebetulan masih ada cukup sisa uang untuk membeli salah satu pernak-pernik yang ada.
(iseng-iseng beli)

"Iiiihhhh lucuuuu... Mau deh beli satu. Tapi untuk apa? Kan aku kuliah di UNPAD, bukan di ITB. Asa mubadzir nanti. Beli ga ya?" galau tapi si tangan sibuk memilah-milah pernak-pernik.
"Beli aja aaaahhh, kali aja nanti bisa beneran kuliah di sini atau dapat suami dari ITB. Huehehehe..." kesimpulan akhirku yang entah darimana tiba-tiba muncul.
Aku memutuskan untuk membeli gantungan kunci ITB.

Seiring waktu berlalu, aku biarkan saja gantungan kunci tersebut menempel di tas kuliah, kadang sesekali menempel di tas imut yang biasa aku pakai untuk agenda rapat-rapat kampus. Ia telah menemani hariku dalam aktivitas yang lumayan padat.
Hingga...
Suatu malam di tanggal 17 Juli 2016, aku sedang duduk di kursi belajar kamar lantai atas dan sejenak memandangi gantungan kunci kamar ITB yang tergeletak di atas meja belajar. Gantungan kunci itu membuatku merasa bernostalgia kembali pada niat yang pernah aku "niatkan" atau lebih tepatnya terlintas iseng-iseng di tahun 2014 akhir lalu.
Dan aku baru menyadari bahwa di awal tahun 2017 mendatang, aku akan masuk kuliah magister di ITB (magister survivor). Seharusnya sudah masuk kuliah di tahun ini pada bulan Agustus akhir, tetapi aku memilih untuk ambil postpone sejenak karena suatu alasan :)

"Mimpi itu akan lebih kuat hadirnya jika di-visualisasi-kan" -Dila

(ini adalah mimpi kesekian kali yang aku visualisasikan semenjak duduk di bangku kuliah semester 2).
Contoh bentuk visualisasinya :
1. Ada yang berbentuk tulisan di atas kertas yang menempel di dinding kosan
2. Membeli barang-barang yang menunjang mimpi
3. Mencetak foto-foto pemandangan atau sebuah tempat, dan menempelkannya di dinding agar selalu terlihat oleh mata)
4. Menempelkan sebuah atlas dunia di dinding kamar dan tambahkan tempelan targetan tahun di sticky notes di negara yang ingin didatangi. Contohnya : Negara ini mau aku kunjungi di bulan sekian dan tahun sekian

Oh ya mimpinya harus juga ditunjang dengan ikhtiar dan do'a ya ^^

Tuesday, July 12, 2016

Hijrah. Mau?

Bismillah...
Writing this note is as my reminder :)

Menanti dalam ruang tunggu itu berat!
Kalau tidak kuat iman akan dapat terjerumus dalam kegiatan yang sia-sia seperti pacaran dimana laki-laki dan perempuan saling melampiaskan efek hormonal yang sedang terjadi di masanya. Betul kan? Rasa suka, rasa ingin diperhatikan lebih, dan segala rasa ketertarikan dengan lawan jenis yang muncul akan membuat sang perempuan maupun laki-laki ingin memberikan semua yang terbaik yang ada pada diri mereka masing-masing kepada pasangan.
Dan, aku lebih memilih bersabar dalam taat karena aku ingin mendapatkan ridha-Nya...
Caranya ?
1. Perbaiki niat
"Sesungguhnya segala amalan tergantung pada niatnya. Dan bagi tiap orang terdapat balasan sesuai yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih, atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya hanya pada apa yang ia niatkan hijrah padanya" (HR Al Bukhari dan Muslim).

2. Miliki teman yang shalih dan shalihah
"Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakan yang menjadi teman dekatnya" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927).
Jadi aku setuju kalau kita berteman harus pilih-pilih (pilihlah yang baik tentunya).

3. Perbanyak menimba ilmu agama
"Ilmu tidak dapat diraih dengan mengistirahatkan badan (bermalas-malasan) (HR Muslim).
Semoga dengan banyak menimba ilmu dari kajian-kajian maupun membaca buku yang bermanfaat akan menjadi salah satu sebab datangnya hidayah kepadamu. Jangan lupa meminta hidayah kepada Allah.
Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian” (HR Muslim).

4. Melakukan amalan-amalan sunnah
“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR Bukhari).

5. Sadar diri
Banyak perempuan yang tidak sadar akan betapa berharga dirinya sehingga banyak sekali hadir perempuan-perempuan yang kelakuannya sudah terlewat batas. Yuk, tetap berusaha menjadi wanita shalihah untuk ayah, suami, dan anak-anakmu kelak :)


6. Berusaha menjadi 4 hal
Banyak muncul di media sosial quote berupa kartun yang mengatakan : "mengapa sibuk mencari (jodoh)? kenapa tidak sibuk menjadi (pasangan yang banyak dicari oleh orang shaleh)?"
Menjadi apa maksudnya?
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung" (HR Bukhari).


"Al-ummu madrasatul ula, iza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq“
Artinya ; Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Monday, June 20, 2016

Perjuangkan yang kamu yakini (II)

Bismillah...

Mau cerita mulai dari mana ya?
Awalnya dapat email masuk tentang surat undangan untuk hadir interview dari admission sbm. Disuruh datang tanggal 20 Juni 2016 jam 09.00 s/d selesai di gedung pertamina MBA-ITB di jalan gelap nyawang.
Baru pertama kali dengar jl gelap nyawang! (ketauan kudetnya).
Berangkat dari Jatinangor menuju Bandung. Niatnya chaw jam 06.30 karena mau naik damri biar hemat, tapi masih betah guling-guling di bawah selimut, jadilah berangkat jam 07.10 pakai Geulis yang keberangkatan jam 07.30. Hahaha parah.
Sampai di Jl. Ganeca jam 08.30. Oya karena ga tau lokasi gelap nyawang dimana, jadinya ngeluarin google map. Ternyata ga jauh lokasinya dari warung pasta jl ganeca ke gedung mba itb. Cuma 6 menit jalan. Lumayan pemanasan di pagi hari.
Sampai di tkp jam 08.45. Ternyata sudah banyak orang menunggu di luar ruangan C & D. Masih belum ada pengawas di dalam ruangan. Tertera di email jam 09.00 mulainya, tapi di tempelan depan ruangan mulainya jam 10.00. Iiih tau aja si bapaknya biar pada ga ngaret datangnya :)))
Akhirnya penguji mulai berdatangan jam 09.30 dan kami semua disuruh masuk ke ruangan sebelah untuk menunggu giliran. Ada 4 sesi @1 jam, dimana tiap sesi ada 6-7 calon maba yang masuk untuk di tanya-tanya.
Ruangannya seperti bioskop, dimana calon maba duduk di kursi di lantai paling bawah dan dosen-dosen (dan beberapa mahasiswa) duduk di kursi lantai atas. Udah kayak tersangka yang sedang diadili -.-"
Dosen pengujinya ada 4 orang dengan pertanyaan yang berbeda-beda. 1 pertanyaan untuk semua. Intinya mah si dosen kepingin melihat kesiapan si kandidat master (ceileeehhh...) untuk berkuliah di MBA-CCE. Takut niat di awal ternyata salah atau malah saat kuliah sudah berlangsung, ternyata ga cocok. Dosen ga ingin para calon maba menyesal. Pertanyaan-pertanyaan yang aku ingat saat sesi aku :
1. Perkenalan diri : nama, asal, dan background pendidikan.
2. Berikan alasan kenapa memilih mba-cce di itb.
3. Ditanya-tanya seputar business plan yang sudah dibuat.
4. Apa hubungannya background calon maba dengan mba-cce (you have to make sure them!).
5. Berapa % yakin mau jadi entrepreneur?
daaann beberapa pertanyaan rahasia yang ga akan di tulis di sini. Hehehe biar surprise :D
Sebenarnya santai sih interviewnya, ga menegangkan bagi aku. Kalo kita udah tau alasan/niat mau kuliah mba cce itu untuk apa, insyaAllah lancar ngejawabnya.
Pastikan kalian menjawabnya dengan jujur dan penuh keyakinan ya. 
Setelah itu diberikan beberapa menit untuk para calon maba untuk bertanya-tanya seputar mba-cce kepada para penguji. Santai koookk santai :D
Oya ketika udah selesai semua 4 sesi tersebut, selang 10 menit langsung diumumkan nama-nama yang diterima di mba-cce. Semua calon maba disuruh masuk kembali ke ruangan ujian, dan kemudian satu persatu dibacakan nama-nama yang lolos. Ini niihh yang lebih deg-deg-an daripada interviewnya. Nervous bookkk...
Nama-nama yang dipanggil, disuruh maju ke depan agar teman-teman yang lain bisa melihat. Udah banyak nama yang terpanggil, nama aku belum disebut juga.
Dila : "duuuhh lolos ga ya? Kalo ga lolos berarti emang belum jalan terbaiknya & belum rezekinya. Ikhlas..ikhlas.." bisikku dalam hati.
Dosen ; "Adila"
Dila : "ya saya Pak". *buyar lamunan* 
Dosen : "yaaa kamu maju. Kamu udah oke untuk kuliah di cce"
Dila : *maju sambil nahan teriak*
and
here
we
are... 
(MBA-CCE-55)
Big thanks to :
1. Allah yang sudah membimbing hari-hariku untuk melangkah di jalan keridhaan-Nya.
2. Prophet Muhammad SAW yang aku contoh perjuangannya yang tiada kenal lelah.
3. Mama & Papa, yang masih belum yakin (sampai saat ini) kalau anak pertamanya udah resmi diterima di MBA-CCE ITB. Makasih juga atas keraguannya selama ini dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seputar masa depan : "ga ngelamar kerjaan? gimana mau dapat uang? Kok cuma bisnis-bisnis gitu aja?", sehingga sekarang Dila yakin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan dulu. Makasiiihhh atas doa-doanya. Keraguaan ada untuk dibuat yakin dan sebagai motivasi bahwa "aku bisa". Dan bisnis itu adalah pekerjaan yang tak terlihat oleh banyak orang, ia tetap bergerak walau dalam kesunyian. Ga tau kapan itu proses produksinya, ngejualnya, dan tiba-tiba aja dompet tebal & saldo tabungan yang bertambah terus.
4. Pak Rizky Abdulah, dosen pembimbing S1 farmasi yang berkenan untuk mengisi surat rekomendasi untuk pendaftaran online.
5. Pak Dodo, yang sudah berkenan juga untuk mengisi surat rekomendasi. dan setelah pemberitahuan kelolosan, Dila udah diajak untuk berdiskusi bisnis. InsyaAllah siap pak :D 
6. Ani, yang udah mau diinapin kosannya untuk bisa pp Jatinangor-Bandung.
7. Iil, yang udah mau jadi private photographer untuk bisnis Syar'i's Cool.
8. dan "kamu", yang entah siapa dan bagaimana rupanya (yaelah bilang aja si "jodoh"), yang berkenan mendoakan kebaikan untuk diri ini. Mungkin tanpa campur doamu jalanku akan berbeda. InsyaAllah setiap langkah akan mendekatkan kita (diihh jadi mellow...)

Alhamdulillah akhirnya hari ini terlewati juga dengan senyuman :)

Pokoknya mah ingin berbagi pengalaman interview untuk MBA-CCE. Maaf kalo ada tulisan yang malah jadi ngawur.
Semoga bermanfaat ^^

Thursday, June 2, 2016

Perjuangkan yang kamu yakini

Yeaayyy nulis blog lagi. Bismillah...

Alhamdulillah dapat kabar gembira ketika melihat email dari Admission SBM ITB masuk. Awal mulai ngedaftar SBM itb sempat ragu : mampu ga ya? bisa ga ya? Akhirnya aku register online dan baru me-upload beberapa dokumen yang diminta. Lama kelamaan kok rasa malas jadi muncul untuk melengkapi persyaratan-persyaratannya. Ada banyak persyaratan kalo ga salah, dan pada akhirnya jadi lumayan terlupakan tentang sbm itb, sampai akhirnya masuklah email dari Info SBM tanggal 27 April'16 tentang tata cara mendaftar dan di telepon sama bagian SBM-nya untuk segera melengkapi persyaratan. Alhamdulillah jadi lebih mengerti cara mendaftarnya dan cara ikut tes-tes-nya.
Berikut persyaratan-persyaratan yang harus diupload ke web itb :
1. Ijazah S1/D4 dari universitas min akreditasi B
2. Transkrip S1 dari universitas min akreditasi B
3. Surat dokter
4. File bukti biaya pendaftaran SBM ITB
5. Pas foto 4x6
6. Sertifikat TOEFL/IELTS/ITP internasional/ELPT ITB
7. Hasil AAT/GMAT
8. Surat rekomendasi dari 2-3 dosen atau atasan
9. Upload 5 buah file yang harus diunduh dulu sebelumnya di web registrasi
Selain itu dikasih tau juga jadwal tes AAT/GMAT & ELPT. Jadwal tes bisa dilihat di web itb : http://www.sbm.itb.ac.id/mba/seleksi-mahasiswa-proses 
Oh ya, saran nih untuk pembaca yang berminat ikut SBM ITB, aku sarankan untuk datang ke acara "open house ITB" di Bandung atau Jakarta. Banyak info-info yang bermanfaat di acara itu dan bisa bertanya bebas ke dosen-dosennya langsung atau ke mahasiswa tingkat akhir, dan ada alumni nya juga looohhh...
Jadwal open house itb bisa dilihat di web SBM ITB nya langsung http://www.sbm.itb.ac.id/. Jangan malas kepo-in.

Secara singkat, magister SBM ITB ada 3 pilihan :
1) MBA-YP yaitu young professional : Untuk mereka yang lulusan S1 atau fresh graduate yang mau lanjutin ke bisnis manajemen. Outputnya adalah bekerja di perusahaan (mungkin) di bidang strategis bisnis manajemennya. Jadwal kuliah regular : Senin-Jum'at.
2) MBA-YE yaitu young executive : Untuk mereka yang kepingin kuliah sambil bekerja. Harus udah ada work experience nya. Jadwal kuliah di weekend, dari pagi sampai malam. Detailnya Jum'at (18.30-22.00) & Sabtu (08.00-19.00).
3) MBA-CCE yaitu creative and cultural entrepreneurship : Untuk mereka yang mau menjadi pengusaha dan suka berfikir kreatif + berinovasi. Jadi nanti kuliahnya ga hanya dari dosen SBM, tapi ada dari dosen FSRD ITB (ilmu design2 gitu). Kurikulum untuk MBA-CCE bisa dilihat di link ini http://www.sbm.itb.ac.id/id/mba/mba-cce/kurikulum-2

Kalo aku memilih jurusan MBA-CCE. Untuk MBA-CCE ada tambahan tes : interview business plan dengan dosen. Kalo untuk MBA-YP & MBA-YE tesnya cukup AAT/GMAT & ELPT aja.
Hiikkksss...
Latar belakang S1 aku adalah apoteker alias dulu kuliahnya farmasi di UNPAD. Laahh kenapa ambil bisnis manajemen? Hehehe boleh-boleh aja dong, toh masih berhubungan. Bisnis yang sudah aku rancang ga hanya cuma 1, tapi udah ada 3 bisnis untuk kedepannya (1 bisnis udah dilakoni semenjak S1). Bisnis ke-2 dan ke-3 ada hubungannya dengan dunia farmasi dan ke-apoteker-an. Intinya dunia kesehatan. 1 bisnis sebagai sarana hobi dan 2 bisnis yang lainnya sebagai tanggungjawab ilmu yang udah dipelajari selama 5 tahun. Hehehehe...
That's why i choose Master of Administration Business programme. Semoga Allah meridhai dan memudahkan jalannya. Aamiin...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Serba-serbi TES SBM ITB
1) Tes ELPT
disarankan ikut tes ELPT bagi mereka yang expired sertifikat TOEFL atau IELTS, termasuk aku. Hehehe... Tes nya di ITB Bandung, jam 13.30-16.00 (+/- 2,5 jam). Soalnya ada 150 buah (wuiihh lebih banyak dari tes toefl di luar...), terdiri dari :
- Listening 50 soal : diputarin conversation untuk menjawab 4-5 soal. Jadiiii harus benar-benar konsentrasi ya dan ga boleh ngantuk. Percakapannya lumayan cepat, panjang, dan aksen si bule ngomongnya ga seperti biasanya. Begitulah...
- Fill in the blank 50 soal : terdiri dari auxiliary verb, verb, modals, dll. Menurut aku cukup mudah ngerjainnya. Waktu untuk 1 soal +/- 1 menit.
- Reading 50 soal : menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tulisan yang disediakan. Mudah kookkk yang reading ^^
Kalo aku belajar dan latihan dari buku TOEFL karangan Arco.

2) Tes AAT/GMAT
aku belum pernah sama sekali ngerjain soal-soal GMAT seperti apa, dan akhirnya minjam buku latihan GMAT ke kantor mama. Lumayan, gratisan. Kalo GMAT yang sebenarnya (yang aku pelajari) terdiri dari 4 bagian soal yaitu analysis of an argument, integrated reasoning, quantitative, dan verbal.
- Analysis of an argument (1 soal) : Dikasih suatu kasus dan kita menjawab dengan membantah argumen yang tersirat dari kasus yang diberikan. Semuanya dalam bahasa Inggris.
- Integrated reasoning (10 soal) : soal-soalnya berupa data-data dalam bentuk curve, tabel, chart.
- Quantitative (37 soal) : mirip TPA tapi dalam bahasa Inggris.
- Verbal (41 soal) : critical reasoning, reading, dan sentence correction.
Dan..dan..dan... tes AAT dari SBM ITB hanya mengambil quantitative & verbal. Cukup membuat mata berkunang-kunang membaca tulisan dalam bahasa inggris (selama 2 hari : ELPT & AAT/GMAT), mencernanya, dan menentukan pilihan jawaban yang benar. Jam tesnya 08.30-11.45.
(buku latihan GMAT)

Alhamdulillah aku lolos kedua tes tersebut, dan tinggal nunggu jadwal interview business plan aja. Semangat !!!

Konversi ELPT-ITB ke TOEFL
NoELPT – ITBTOEFL (Paper-Based Test)
10310
27310
314317
421327
528350
635377
743397
850417
957433
1064450
1171463
1278480
1385497
1492513
1599523
16106537
17113550
18120563
19128570
20134587
21142600
22149620
23156637
24163650
2517067
*Bocoran : dari seorang teteh (yang lagi pendaftaran juga untuk S3 MSM di SBM ITB) yang ga sengaja kenalan pas membalikkan berkas-berkas pendaftaran, katanya : kuliah di MBA ITB itu ga ada yang pake bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah, jadi kegiatan perkuliahan memakai bahasa Inggris.
Yassalam..... 
Welcome to the world :') . Aku anak kuat (^.^)9

*baru tau setelah aku tinggal menunggu hari tes ELPT & AAT/GMAT.
Sekian, semoga bermanfaat...

Next challenges : menaklukan interview business plan & LPDP.
Hoooooaaaaaa bisa..bisa..bisa...!!!
"You are what you think"

Tuesday, May 17, 2016

Sepotong Episode : Have you ever .... ?

Jam 15.00 aku menunggu seorang teman di kantin pojok sebuah gedung. Namanya Nadia, tapi aku suka memanggilnya dengang nama Di, bukan Nad. Biar hemat kata. Dua menit kemudian, masuk pesan dari Nadia kalau ia kebingungan mencari tempat duduk yang sudah aku pesan. Aku melambaikan tangan ketika telah terlihat batang hidung sahabat kecilku ini. Tak banyak yang berubah semenjak ia pulang dari Turki.
"Assalamu'alaykum Ra. MasyaAllah makin cantik aja" sapanya kepadaku.
"Wa'alaykumsalam. Kamu juga ih Di. Kangeeennn...".
Kami memesan makanan sambil berbincang-bincang ria hingga aku melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya. Entahlah aku sedang butuh seorang teman untuk berbagi akhir-akhir ini.
"Di. pernah merasakan getaran cinta walau belum pernah bertemu, bertatap muka, bahkan belum sampai mengobrol bersama? Terlihat mustahil nampaknya bagi mereka yang lebih menuruti nafsu sesaat".
"Darimana kamu tahu Ra?" tanyanya.
"Loohh kamu belum pernah ngalamin ya Di?" tanyaku penasaran.
"Hmmm rasanya belum. Kan aku percaya 'love at the first sight', jadi cinta pada pandangan pertama. Apalagi kalau di dekatnya, dunia terasa lebih indah. Coba ceritain lebih dalam maksud pertanyaan kamu.
"Jadi gini, aku lagi merasakan getaran cinta yang ke-3 tapi tidak tau sama siapa, mungkin sama orang di masa depan yang rupanya, sifatnya, akhlaknya, kebiasaannya, kesukaannya yang tidak aku ketahui sama sekali. Rasanya kok indah banget ya Di?".
"Laaahhh kamu sehat kan Ra? Mau aku panggilin dokter spesialis cinta?" tangan Nadia menempel di keningku, takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya yang satu ini.
"Hahahaha mana ada dokter spesialis cinta. Ngawur...".
"Kamu itu yang ngawur, mana bisa suka bahkan cinta sama orang yang belum pernah sama sekali bertemu. Eehh tunggu, kamu bilang cinta ke-3, jadi cinta ke-1 dan 2 siapa?".
"Aku pertama kali merasakan cinta dengan orang tua aku. Untuk yang ini nggak usah aku jelasin ya. Lalu untuk kedua kalinya aku cinta kepada penciptaku yaitu Allah. Aku merasakannya ketika aku telah hijrah dari yang nggak mengerti agama Islam menjadi mengerti untuk apa aku hadir di dunia ini. Cinta ini berawal sejak kuliah semester 1 dimana aku rutinkan membaca ayat Al-Qur'an beserta artinya. Ternyata isinya ayat-ayat cinta Allah untuk para hamba-Nya. Nggak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata akan kasih sayang Allah untuk kita, Di. Indahnya akan terasa bagi yang mau mendekati-Nya. Daannn untuk cinta yang ke-3 ini, seperti rindu yang kerapkali hadir mengisi hari-hari. Rindu ingin segera berjumpa, mengenal, dan berbagi".
"Cieeee ternyata lagi kasmaran ya? Sama siapa?".
"Udah dibilangin aku nggak tau kasmaran sama siapa".
"Ra, kamu nggak tersiksa dengan cinta yang ke-3 itu? Kan rasa rindu itu menyakitkan bagi yang kasmaran, menurutku loh ya".
"Hmmm salah, Di. Rindu itu menyakitkan bagi yang tidak bisa mengolah rindu tersebut pada tempatnya. Misal, dari curhatan teman aku yang cerita ke aku tentang teman spesialnya alias pacarnya, ketika sehari atau dua hari nggak berjumpa atau saling sapa 'hi', rasanya ada yang kurang di hari itu, lalu terbitlah rindu. Jadilah pikiran kita terfokus ke si dia dan banyak melupakan Dia, ditambah lagi kerjaan jadi keteteran karena fokusnya sudah berubah. Lalu ketika si pacarnya move on ke perempuan lain, muncullah sakit hati yang lama terobatinya. Dunia serasa memusuhinya. Yaaahh begitulah yang bisa aku ambil kesimpulannya dari hasil menyaksikan langsung teman aku yang satu itu".
"Namanya juga orang pacaran Ra, wajarlah. Berarti emang ngggak cocok" katanya sambil meneguk sebuah jus alpukat.
"Lain halnya dengan rindu dan cinta yang berdebar-debar. Ketika energimu tersalurkan untuk kegiatan-kegiatan yang positif sambil memohon kepada-Nya untuk segera dipertemukan di waktu yang tepat. Rasa rindu itu akan berubah menjadi do'a yang rutin dilakukan di sepertiga malam, saat hujan turun, dan selepas shalat fardhu. Ada usaha yang kamu perjuangkan ketika suatu saat pertama kali hadir di hadapannya, kamu dalam keadaan yang sebaik-baiknya iman dan akhlak. Toh nggak ada jaminan kan orang yang pacaran itu akan berjodoh? Jadi ngapain membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak pasti?".
"Iya betul Ra. Untung aku belum pernah merasakan pacaran yang seperti remaja-remaja lakukan zaman ini. Senang deh berteman sama kamu".
"Tau rasanya ketika kamu bisa menjaga kesucian cinta dan nikmatnya rindu untuk jodohmu seorang?" tanyaku.
"Nggak tau Ra. Kayak gimana rasanya ya? Aku belum kepikiran".
"Kata kakak aku yang sudah menikah, rasanya itu seperti merasakan nikmatnya meneguk air saat berbuka puasa. Yaahh seperti itulah gambaran untuk mereka yang bisa menjaga diri dari godaan hawa nafsu sesaat dan bersabar untuk menanti waktu berbuka yang pasti akan tiba. All paid off ketika tiba waktunya dia menjabat tangan kanan ayahmu kemudian mengucapkan ijab kabul. Percaya deh".
"So sweet banget sih pengandaiannya".
"Siapa dulu, kakakku..." kataku sambil membuka dompet untuk membayar makanan ringan dan minuman.
Setelah selesai mengisi perut, aku dan Nadia pergi mencari bis untuk pulang ke rumah. Kebetulan rumah kami hanya dipisahkan oleh 5 rumah,
10 menit kemudian, akhirnya bis yang dinanti-pun tiba.
"Padet banget di dalam bis. Alhamdulillah ya Di, kita dapat tempat duduk bersebelahan".
"Iya alhamdulillah. Kalau sudah menjelang sore seperti ini, bis penuh sesak dan padat. Untung kita pulang agak cepat".
Bis berhenti ketika lampu merah menyala dan terlihat ada timer di lampu lalu lintas yang menunjukkan detik ke-30.
"Ayooo..ayoooo.. cepat naik bu" kata seorang kenek bis kepada seorang ibu muda yang sedang hamil besar.
Terlihat sang ibu muda itu agak ngos-ngosan karena berkejaran dengan waktu. Alhamdulillah akhirnya 5 detik sebelum lampu hijau, ia sudah masuk ke dalam bis. Terlihat dengan sigap seorang pemuda memberikan tempat duduknya kepada ibu muda tersebut.
"Di, kamu bisa melihat sang jabang bayi dalam perut ibu muda itu ga?" tanyaku kepada Nadia yang fokus melihat jalanan di depan.
"Yaaa ga bisa lah Ra, kecuali kalau aku dikasih hasil USG-nya. Hehehe...".
"Tapi kenapa ya sang ibu mau aja berlelah-lelah untuk merawat si bayi dalam perutnya, seperti harus nurut kata dokter nggak boleh makan ini itu, rutin periksa kandungan? Kemana-mana si bayi ikut, kan berat tugasnya ibu".
"Kan karena si ibu cinta ke si bayi dan juga pasti mau bertemu dengan bayinya dalam keadaan sehat. Wajar kan Ra?" tanya Nadia heran.
"Nah itu Di yang aku maksud dengan hadirnya getar cinta dan rindu walau belum pernah bertemu, bertatap muka secara langsung, bahkan mengobrol berdua. Cinta dan rindu yang benar itu adalah hakitnya kamu memperjuangkan yang terbaik untuk yang sudah lama kamu nanti. Sekarang kamu faham kan apa yang aku rasa sekarang?".
"Lama-lama aku semakin faham apa yang kamu rasa".
"Semoga jodohku kelak juga melakukan hal yang sama seperti apa yang aku perjuangkan saat ini".


“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat-Ku, serta mengikuti nafsunya dan itu adalah melewati batas” (QS. Al-Kahfi: 28).

“Dan jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya), Maka allah mengilhamkan pada jiwa itu jalan kefasikan dan ketawaanya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikannya. Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya. (kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,’’ (QS. Asy-Syams: 7-11)

Saturday, May 14, 2016

Ilmu Parenting

Sebenarnya udah lama mau berbagi tulisan ini, tapi karena masih malu-malu kucing, jadilah ga berani nge-publish :D

Dunia baru yang asik untuk dipelajari semenjak aku masuk umur 21 tahun yaitu dunia parenting : dunia memahami karakter dan sifat anak-anak. Dulu saat masih berumur 18 tahun, udah bikin target nikah yaitu di umur 22 tahun (pas banget umur ketika lulus kuliah profesi), tapi Allah masih belum mempertemukan sama si doi. Disuruh bersabar lagi, memperbaiki diri, dan meluruskan niat lagi. Aku masuk sekolah itu kecepatan 1 tahun. Lulus S1 umur 21 tahun, dan lulus profesi umur 22 tahun. Alhasil pergaulan di bangku kuliah udah sama yang dewasa-dewasa dan cukup matang sehingga mempengaruhi jalan pikiranku, tapi mereka yang udah dekat banget, aku masih lumayan menonjol sifat anak-anaknya : kadang suka bikin orang kesal dan tertawa karena tingkah laku aku. Yaaa maklumin aja, duniaku ga sejalan sama umurku saat itu. Bagi orang tuaku, aku masih terlihat seorang anak yang berumur 17 tahun karena terpisah jarak dan waktu selama 5 tahun saat di umur segitu. Wuhuuu tapi sekarang udah ngerti cara berfikir orang dewasa karena dilatih di dunia organisasi which means aku jadi punya banyak relasi, teman-teman yang pikirannya tingkat tinggi dan daya juang meraih cita-cita yang beraneka ragam.
Alhamdulillah... emang berasa hasil doa yang pernah kupanjatkan ke Allah saat di ujung harap (kelas 3 SMA) yaitu masa-masa dimana ujian-ujian kelulusan sekolah dan universitas datang bertubi-tubi. Ga tau mau lanjut kemana, ga tau suka di bidang apa, mau universitas apa, daann masih ngegantung pokoknya masa depannya. H2C : harap-harap cemas.
Ga mau ambil pusing, akhirnya aku sering-sering meminta ke Allah doa seperti ini : "Ya Allah, berikanlah universitas dan fakultas yang terbaik untuk masa depan dunia dan akhirat hamba. Berikan orang-orang yang baik untuk tumbuh kembang hamba. Aamiin...".
(buat yang diujung harap, coba deh doa seperti itu dengan penuh harap dan cemas).
Minta sesingkat itu. Alhamdulillah semenjak diterima di Farmasi UNPAD, benar-benar ngerasain Allah memberikan kehadiran orang-orang yang keren dan dahsyat dunia + akhiratnya. Terima kasih teman-temanku yang merangkap juga menjadi guru-guruku :)
Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan kalian semua.
~oke, itu cuma flashback sedikit aja~

Umur 21 tahun, saat dimana teteh-teteh dan akang-akang yang aku kenal satu persatu menggenapkan dirinya. Hmmmm rasanya apa ya pas itu? Rasanya jadi ikut termotivasi untuk menggali ilmu-ilmu pra & pasca nikah. Ketika sudah mulai merasa kenyang ilmu-ilmu itu (tinggal actionnya ceunah), tertariklah aku untuk belajar ilmu parenting, dan lagi-lagi Allah mengantarkan teman-teman dan tulisan-tulisan yang membahas dunia parenting. MasyaAllah pertolongan Allah begitu cepat, padahal itu hanya baru terbesit di niat. Alhamdulillah.

Referensi ilmu parenting yang sedang (sampai hari ini) aku pelajari yaitu :
1. Surat Al-Luqman : 12-19
12.  Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
13.  Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
14.  Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
15.  Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.
16.  (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17.  Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18.  Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

2. Fanpage FB : Gadget muslimah
Isinya ga hanya dunia parenting, tapi ada juga tentang rumah tangga. Enakeun bahasanya, gambarnya juga bagus-bagus jadi bikin orang tertarik dan betah untuk baca.

3. Kumpulan slide materi teh Kiki Barkiah yang dishare teman-teman di FB
4. Buku teh Kiki Barkiah : 5 guru kecilku bagian 1 & 2
Isi bukunya menceritakan pengalaman teh KiBar dalam mendidik anak seorang diri tanpa asisten rumah tangga, tapi bisa membuat kompak anak-anaknya untuk membantu kerjaan rumah.

5. Buku Irawati Istadi : Mendidik dengan cinta
Bahasa bukunya ga berat, santai, penjelasannya enak dilengkapi dalil-dalil, dan banyak yang diambil dari pengalaman kehidupan sang penulis dalam mendidik anak. Favorite ;) . Aku belum selesai baca semua, tapi pas ngintip-ngintip bab berikutnya, buku ini ditulis dengan lebih banyak pandangan dari sang anak seperti apa yang anak rasa saat umur sekian dan sekian dan cara orang tua mengatasi sifat anak yang berbeda-beda. Ga bisa dipukul rata sifat anak-anak itu.

6. Tulisan seorang ibu (lulusan psikologi unpad) yang mencoba eksperimen langsung ke anaknya. Kalo mau ngepoin, bisa search instagram teh Ajeng : @ajengciki . Makasih banget ilmunya teh, hiikss belum pernah ketemu sama Jaisyu embul.

Untuk sementara baru segitu referensi ilmu parenting yang sedang aku pelajari, kalau ada yang mau nambahin referensi lain, bisa comment di blog ini atau lewat email aoi_adila@yahoo.com.
Seruuuuu loohh mendalami ilmu parenting dan dunia anak-anak itu (jadi kepingin cepat punya #aamiin)


(Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu, dan perbaikilah pendidikan mereka.”)