Thursday, November 17, 2016

Sebelum master, eh datang mister

"You educated a man : You educated a man. You educated a woman : You educated a generation" -Brigham Young

Setelah lulus bidang profesi apoteker, sembari ikhtiar mencari lowongan pekerjaan, saya juga iseng-iseng membuka web universtas-univesitas. Tertarik ingin melanjutkan studi ke jenjang S2 di bidang farmasi klinik. Setelah banyak mengobrol dengan teman-teman yang juga tertarik untuk bersekolah lagi, akhirnya saya putuskan untuk mencoba ikut tes di UI (farmasi klinik). Hasilnya adalah belum rezeki saya saat itu. Mencoba lagi? Ya, coba lagi!
Kali ini, langsung mendaftar di 2 universitas yang berbeda yaitu famasi klinik UI (lagi) dan iseng-iseng daftar MBA ITB (sok pede banget! Hahaha). Biaya pendaftarannya untuk keduanya juga lumayan menguras doku. Akhirnya ngerayu orang tua agar bisa 50:50 pembayarannya.
Sebenarnya, pilihan yang cukup sulit kala itu jika diterima dua-duanya karena harus siap untuk menentukan salah satu diantara 2 pilihan (iya kalo keterima di dua-duanya). Kalo nggak keterima di dua-duanya mungkin pilihan yang tersisa : kerja atau nikah (aja). Udah gitu, menunggu hasil pengumumannya berbulan-bulan, alhasil membuat hidup tak tenang.
Beberapa bulan kemudian, pengumuman pertama yang keluar adalah dari UI. Jreeenngg... ternyata hasilnya pun tetap sama : belum lolos untuk bersekolah di sana.
Hiiikkkksss, sedih banget...
Saat itu langsung hopeless banget. UI aja nggak diterima, apalagi MBA ITB. Jangan mimpi ketinggian, Dila.
"udahlah siap-siap nikah aja kalo gini" pikir saya saat itu. Hahahaha :D.....
Ya Allah padahal udah niat banget ingin bersekolah lagi, tapi kok jalannya belum terlihat. Apa mungkin ikhtiarnya yang belum kuat? Sempat saya berburuk sangka ke Allah. Haaa mungkin saat itu kondisi iman saya yang sedang lemah.


Balik lagi saya menguatkan diri sendiri : 

"If you feel that you're very down, just close your eyes and say : This is my journey. He puts me here. It's His plan, so I have to carry on and trust Him"

Hasil pengumuman yang dinanti-nanti tiba (bulan Juni pertengahan kalo nggak salah). Ternyata hasilnya alhamdulillah saya (kok malah) lolos MBA ITB. Sedetik setelah itu saya percaya bahwa telah terjadi pertarungan antara doa dan takdir di langit ^^ .
Kisah perjuangan saya untuk ikut tes ITB bisa klik di sini dan di sini

"Jangan pernah lelah berbaiksangka kepada-Nya"

Liat-liat biaya kuliah di jurusan sana ternyata lumayan juga. Ini harus wajib biaya kuliah dari beasiswa. Sejurus kemudian saya langsung mendaftar LPDP gelombang 3 dengan konsekuensi jadwal masuk kuliah saya yang seharusnya Agustus 2016 diminta untuk diundur ke bulan Januari 2017 karena LPDP meminta min 6 bulan sebelum memulai perkuliahan harus sudah mendaftar LPDP. Sebenarnya bisa saja mendaftar LPDP di gelombang 1, tapi saya sendiri tidak pede. Hehe...
Bismillah....

And day after day, someone (old friend) contacted me by phone (18 Ramadhan 1437 H/ 23 Juni 2016). Typed a message and asked my updated activities. I thought some ambiguous will be happened. Hmmmm....

Ternyata dugaan saya benar. Akhirnya ia berterus terang bahwa ada temannya yang tertarik ingin berkenalan (ta'aruf) dengan saya dan berniat serius (huwooowww....!). Penjelasan itu saya dapat darinya setelah saya pura-pura oon bertanya maksud dari chat yang dia sampaikan. You had been trapped! Hohoho...
Setelah kegalauan saya berkurang akibat studi master dan beasiswa, sekarang saya dihadapkan dengan si mister (rasanya mau kabur aja saat itu. Suer!).

1 Juli 2016
Saya dan temannya itu (si mister) bertukaran biodata ta'aruf melalui perantara teman saya. Buat yang penasaran isinya seperti apa, searching aja di google dengan keyword : biodata ta'aruf. Banyak kok, bahkan ada dilengkapi dengan penjelasannya. Setelah bertukaran, sama-sama memahami isinya dan saling melaksanakan shalat istikharah.

3 Juli 2016
Saya kembali hopeless lagi karena persiapan saya kurang di TOEFL (sudah expired) untuk apply beasiswa LPDP. Setau saya, calon awardee yang sudah mempunyai LOA unconditional (seperti saya yang sudah resmi diterima di univ tujuan) tidak perlu melampirkan sertifikat TOEFL ITP by ETS. Ternyata tetap diwajibkan untuk dilampirkan (mungkin kebijakannya berubah-ubah terus). Max waktu pendaftaran lpdp tinggal 1 minggu lagi, sedangkan jika saya ambil tes toefl itp sudah tidak mungkin lagi karena untuk hasilnya saja baru akan keluar setelah 2 minggu dari tanggal tes. Sudah lewat dari waktu lpdp. Kembali saya murung lagi, belum lagi ada si mister (T.T). Akhirnya saya memutuskan untuk mundur saja dari ta'aruf ini karena saya berada di dua pilihan yang sulit dan saya minta disampaikan ke si mister melalui teman saya.

4 Juli 2016
Rasanya tidak adil jika saya tidak menyampaikan permintaan izin si mister untuk datang ke rumah dengan niat silaturrahim (ceunah) kepada orang tua saya. Saat itu suasananya sedang berada di dapur pagi hari untuk mempersiapkan lauk pauk di hari lebaran idul fitri (H-3). Intinya lagi riweuh. Setelah saya sampaikan maksud si mister dan memperlihatkan biodatanya, orang tua saya bilang : "Ya udah kalo mau datang, datang aja" (nyeessss... saya harus gimana ini?).

5 Juli 2016
Saya sampaikan pesan orang tua ke teman saya kalau si mister diizinkan datang untuk silaturrahim (ingat ya silaturrahim aja!). Hahahaha (grogi to the max).

10 Juli 2016
Jreeengg jreenngg : ta'aruf ke-1 (panic at the disco).
Mister datang ke rumah bersama ibunya (niatnya mau datang sendiri, tapi ibunya juga ingin ikut) dan bertemu untuk pertama kalinya. Canggung, grogi, deg-deg-an, tidak berani menatap, dan berdua sama-sama ghadul bashar (menundukkan pandangan). Hanya berani curi-curi pandang untuk nadzor.

"Apabila seorang di antara kamu hendak meminang seorang wanita dan akan mengawininya, hendaklah ia melihat sebagian dari apa yang bisa mendorongnya untuk mengawininya"
(HR. Ahmad & Abu Daud).

Sepulangnya si mister dan ibunya, kami langsung berkumpul untuk diskusi dan what a surprise!
Dari kedua orang tua say YES (alhamdulillah). Padahal mama dan papa saklek ingin punya menantu yang dari minang.
"Duuhh ma, pa kalo saklek seperti itu, anakmu kapan akan nikahnya?" gerutu saya beberapa tahun terakhir. Lagi dan lagi saya semakin percaya bahwa doa dan takdir memang bertarung di langit ^^

"Allah Yang Maha Membolak-balikan Hati hamba-hamba-Nya. Bermohonlah kepada-Nya"

Restu mama dan papa alhamdulillah sudah diberikan. Oya si mister ini berasal dari Sunda :)

23 Juli 2016, 
Ta'aruf ke-2 : keluarga kami dimita untuk bersilaturrahim ke kediaman si mister di Cileunyi (hahaha itu kan tempat saya kuliah dulu di UNPAD). Tidak ada komunikasi yang terjadi antara saya dan mister. Lebih ke pendekatan dua keluarga. Silahkan bayangkan bagaimana groginya saya menghadapi si mister.

24 Juli 2016
Karena tidak terjadi komunikasi, akhirnya saya mengirimkan 5 pertanyaan (by email) yang masih terpendam & belum sempat terlontarkan langsung dan begitu juga sebaliknya. Hehehe seharusnya saat ta'aruf itu (face to face) adalah waktu yang tepat untuk menggali latar belakang calon dan rencana ke depan. Setelah saya membaca balasan emailnya, saya meminta waktu 3 hari untuk memberikan jawaban : lanjut atau tidak.

27 Juli 2016
Melakukan shalat istikharah terakhir sebelum memberikan jawaban untuk kelanjutan proses. Di istikharah terakhir ini saya meminta dengan sangat ke Allah agar diberikan keyakinan dan kemantapan hati untuk menentukan proses selanjutnya. Selesai shalat istikharah dan sambil menunggu adzan subuh berkumandang, saya mengambil mushaf dan mentadaburi ayat Al-Qur'an yang selanjutnya akan saya baca, ternyata lembar selanjutnya adalah surat An-Nisa : 1.

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu"

Jawaban dikirimkan melalui email : "Bismillahirrahmanirrahim. InsyaAllah Dila lanjut". Lanjut di sini berarti lanjut ke khitbah (lamaran).

31 Juli 2016
Si mister dipanggil khusus untuk datang ke rumah sama orang tua karena mau di 'interview' dikit, yaaa kurang lebih 1,5 - 2 jam.

Oya, alhasil niatnya pending 1 semester kuliah untuk berjuang di beasiswa LPDP, ternyata Allah alihkan untuk menikah dulu. Yaa Rabb... :')
Sejujurnya merasa kesal tapi senang. Gimana atuh? Ini benar-benar di luar prediksi saya dan keluarga besar. Aaahh teringat saya surat Al-Baqarah : 216.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

Percayalah rencana Allah lebih indah daripada rencana hamba-Nya :)

"Alasan apalagi untuk tidak taat pada-Mu Yaa Rabb jika sedemikian detail Engkau mengatur segala urusan hamba-hamba-Mu?"

10 September 2016
Tibalah hari Khitbah (lamaran). Degup jantung semakin terasa bookkkk (>,<). Bagi yang perlu turunan rundown khitbah, bisa kirim ke email aoi_adila@yahoo.com dengan subject : minta rundown khitbah. InsyaAllah nanti saya kirimkan.

(si mister meminta langsung ke mama papa)

(deg-deg-an)

(pemasangan cincin dari ibu CPP ke CPW dan bapak CPW ke CPP)

(it's so unbelievable)

Tidak ada kata 1/2 halal walaupun sudah bertunangan (ingat loohh!). Halal itu kalau sudah akad terucap. Dalam Islam jarak dari ta'aruf-khitbah-akad tidak boleh terlalu lama karena rawan godaan syaithan dan hati-hati bisa jatuh ke perzinahan. Naudzubillah...
Yang saya tau jarak ta'aruf ke akad jangan sampai lebih dari 6 bulan karena niat itu mudah berubah-ubah. Mulailah pernikahan dengan niat Lillahita'ala agar kehidupan berkah.
Berkah?
Berkah : 1 + 1 tidak sama dengan 2, tapi 1 + 1 = 1000 bahkan lebih nilainya di mata Allah.
Buatlah Allah ridha atas segala yang kita lakukan, termasuk menikah. Sesuatu yang baik, mulailah dengan yang baik pula.
Pun, pasca khitbah, memang benar godaannya semakin menjadi-jadi entah itu dari dalam diri maupun dari luar bahkan orang lain. Tetap semangat menyelesaikan godaan dan ujian yang datang menyapa karena sesungguhnya Allah sedang menguji kesungguhan niatmu.

(cieee udah dikhitbah)

-bersambung-

Kenapa prosesnya bisa sebegitu cepat?
Darimana keyakinan itu muncul?

Coming soon : "Menikah itu ibadah, halal itu indah"

Monday, October 24, 2016

Amalan harian, penting gitu?

Alhamdulillah kemarin saya berkesempatan untuk hadir dalam suatu majelis ilmu, membahas tentang pentingnya amalan harian (amalan yaumiah). Uhuukkk jadi kena tamparan.

Amalan harian itu yang seperti apa?
Let me write down them all :
1. Shalat wajib (tepat waktu)
    jangan diundur-undur mengerjakannya, nanti seperti binatang undur undur :p
2. Shalat sunah rawatib (qabliyah dan ba'diah)
    qabliyah : shalat sebelum melaksanakan shalat wajib
    ba'diah : shalat seseudah melaksanakan shalat wajib
3. Shalat sunah dhuha
4. Shalat sunah qiyamulail (tahajud)
    yang butuh curhat, inilah waktu yang tepat bercerita panjang lebar kepada Sang Maha Kuasa. Ia tidak akan membocorkan curhatanmu, justru akan memberikan jalan untuk menyelesaikannya. Percaya deh!
5. Dzikir pagi dan petang (al-ma'tsurat)
6. Shalat berjamaah di masjid bagi ikhwan
7. Tilawah Al-Qur'an + tadabur
8. Sedekah harian
9. Birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua)
10. Membaca buku yang bermanfaat
dst...
Berat melakukannya? Tidak, jika kamu mengetahui balasan dari Allah dan hikmah yang ada dibaliknya (amalan-amalan harian).
Eh siapa tau dengan kamu memperbaiki hubungan dengan Allah, bisa jadi Allah akan memperbaiki urusanmu dengan sesama manusia. 
Saya pernah membaca sebuah buku tentang "How to manage your habit" karya Ust. Felix Siauw. Di buku itu tertulis bahwa aktivitas-aktivitas yang kita lakukan selama 3 bulan berturut-turut akan menjadi sebuah kebiasaan, dan dari kebiasaan itu akan menjadi jati diri kita. Jadi, pilah-pilahlah kegiatan-kegiatan yang akan dapat membentuk jati dirimu #ntms.

Back to the topic (^.^)
Namanya juga manusia, keimanan pasti naik turun, tapi dengan adanya amalan harian akan membuat keimanan manusia berada dalam posisi yang stabil dan naik terus.
"Amalan harian ada sebagai penjaga keimanan"
Penyebab tertinggalnya amalan harian :
1. Maksiat
Segala bentuk maksiat baik itu yang besar atau kecil, akan menjadi penghalang bagi dirimu untuk mendekat ke Allah. Dosa-dosa akan mengikat kaki, tangan, mata sehingga kamu enggan untuk taat kepada-Nya (lagi). Jangan remehkan dosa-dosa kecil karena itu permulaan dari dosa-dosa besar.

2. Terlalu banyak melakukan perbuatan yang mubah
Perbuatan yang mubah seperti berlebihan membuka media sosial atau HP, makan sampai merasa 'begah', tidur yang berkepanjangan, dll.
"Segera kurangi candu dunia"

3. Sudah merasa menjadi orang yang sempurna amalannya
Biasanya orang yang merasa dirinya sudah sempurna, maka tidak jarang ia akan mulai meremehkan amalan-amalan harian karena merasa amalan 'gue' udah banyak kok. Setan selalu saja istiqamah dalam menggoda manusia ya!

4. Suka menunda-nunda

Ini nih kebanyakan penyakit manusia : suka menunda-nunda suatu amalan kebaikan (termasuk salah satunya nikah #eh).
Ada 3 macam panggilan dari Allah yaitu :
1. Panggilan ketika adzan untuk segera shalat
2. Panggilan untuk beribadah haji jika mampu
3. Panggilan kematian
    semoga kita mendapat panggilan dari Allah seperti yang tertulis di surat Al-Fajr
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku" (QS al-Fajr [89]: 27-30).
Hiiikkksss suka nangis setiap mendengar ayat ini jika dibacakan oleh imam shalat, apalagi di saat shalat tahajud dan lampu dimatikan. Merinding dan sesegukan membayangkan "apa mungkin Allah akan memberikan panggilan tersebut ke diri yang hina dina ini?".

Dampak meninggalkan amalan harian :
1. Pikiran menjadi tidak tenang dan gelisah.
Ingat sumber segala ketenangan adanya di hati, jadi berilah makanan untuk hati dengan melakukan amalan-amalan harian.
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Muncul ke-futur-an
Futur? Apa itu? Cara mudah memahaminya adalah iman kembali lemah/menurun. Muncul rasa malas beribadah, selain itu, rasanya mudah sekali melakukan dosa (T.T)

3. Badan (fisik) menjadi lemah
Tidak hanya iman yang menjadi lemah tapi fisik pun juga akan mengikuti. Ingat, banyak melakukan ibadah tidak akan membuat fisikmu lemah, tapi menjadikan fisikmu kuat. Kekuatan diri seorang muslim ada pada istighfar dan taubatnya.

4. Tidak mendapatkan taufik dari Allah

5. Kehilangan wibawa
Maksudnya adalah diri tidak beribawa di hadapan musuh-musuh Allah karena ia telah memutuskan hubungan dengan Allah.

Cara mengembalikan lagi ghirah (semangat) untuk melakukan amalan harian :
1. Kembali lagi ke Al-Qur'an
Jangan pernah ada kata "bosan" untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an. Jadikanlah ia sebagai teman (hidup) di dunia dan akhirat kelak. Ia akan menerangi kubur kita disaat tiada penerangan lagi seperti ketika hidup di dunia. Al-Qur'an itu adalah penasihat pribadi. 

2. Membebaskan diri dari maksiat dan dosa
Ingat, tidak akan ada dosa besar kecuali dari dosa-dosa kecil yang sering dilakukan.
"Every little sins that you make will poison your soul"

3. Jangan berlebihan melakukan yang mubah
Lakukanlah kegiatan-kegiatan secukupnya, seperti makan secukupnya (berhenti sebelum kenyang), istirahat secukupnya. Jangan lebay!

4. Tegas dan keras ke diri sendiri, namun lemah lembut ke orang lain.
Jangan kebalik ya :)

5. Hiduplah di lingkungan jamaah
Maksudnya adalah pintar-pintarlah untuk mencari teman dan lingkungan. Contohnya, ketika hendak membeli sebuah rumah, lihatlah terlebih dahulu siapa tetangganya dan bagaimana kondisi lingkungan sosial sekitar karena lingkungan sangaaaattt mempengaruhi pembentukan diri.

6. Meminta pertolongan ke Allah
Aaaahhh mungkin kalau tidak ada lagi cara lain untuk menyadarkan diri, berdoalah ke Allah meminta agar Ia membukakan kembali pintu hidayah yang sempat tertutup oleh kebodohan dan kemalasan kita sebagai manusia.

Wallahu'alam bissawab...

Dengan merutinkan melakukan amalan harian, semoga diri kita bisa sampai pada puncak manisnya iman dan Islam :)

Tuesday, October 11, 2016

Istikharah Cinta part 2

(beberapa koleksi buku di kamar)

"A dream written down with a date becomes a goal"

Selama di dunia perkuliahan, alhamdullillah saya berteman akrab dengan buku-buku. Buku bacaan dan novel sudah seperti teman (hidup). Kamar kosan sudah seperti perpustakaan, dan teman-teman yang kadang bertamu ke kamar suka meminjam beberapa koleksi buku saya. Entah itu ketika sedang tidak ada jadwal kuliah, saat hari kejepit, atau saat mereka sedang bagus mood membacanya. Sejak dahulu saya terhipnotis dengan ungkapan-ungkapan yang terdapat pada beberapa buku seperti buku Al-Hikam (Ibnu 'Athaillah) & Jalan Cinta Para Pejuang (Ust. Salim A Fillah). Salah satu isinya seperti ini :

"Pertemuan antara kehendakmu dan kehendak-Nya bagaikan angin yang membatasi busur panahmu dengan sasaran. Meskipun perhitunganmu sangat akurat, bisa saja angin 'membelokkan' busurumu ke arah yang lain. Tugasmu hanyalah memfokuskan perhatianmu pada sasaran, mempersiapkan segala kemungkinan untuk berhasil 'membidik' tepat sasaran. Selanjutnya, biarkan ketentuan-Nya yang bermain"
(Al-Hikam)

Hal lain yang benar-benar saya coba praktikan sehabis membaca buku karangan Ust. Salim adalah seperti di bawah ini :

"Sematkan saja sebuah tanggal padanya. Karena cita-cita adalah mimpi yang bertanggal. Cita-cita adalah mimpi yang kita tentukan waktu mewujudakannya. Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Mari berikhtiar sekuat jiwa dan raga, kita tunaikan kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan diri dengan-Nya. Kita genapkan sunnah-sunnah untuk mengambil cinta-Nya"
(Jalan Cinta Para Pejuang) 

Dari buku-buku tersebut, terbesit di diri saya (tahun 2012, umur 19 tahun) untuk menargetkan tahun menikah, yaitu di tahun 2014 (umur 21 tahun). Saat itu sepertinya saya masih bingung apakah niat menikah itu termasuk kategori "INGIN" atau "BUTUH" untuk saya. Hati-hati loh, beda antara keinginan dan kebutuhan. Ingin belum tentu butuh, dan ingin itu mungkin hanya berlangsung sebentar saja, hanya perasaan sesaat, dan mungkin didorong karena nafsu, tapi kalau butuh beda lagi. Butuh mempunyai arti kamu memang sudah memerlukan, dan merasa harus segera dipenuhi, seperti kita manusia butuh udara untuk bernafas, makanan untuk menghasilkan energi, dll. Kebutuhan itu lebih tinggi tingkatannya daripada hanya sekedar ingin.
Sekarang coba tanya ke diri, menikah bagi diri sendiri termasuk ke kategori "ingin" atau "butuh"? 
Rasanya di umur 19 tahun saya baru tersadar bahwa niat itu masih dalam kategori ingin. Namanya juga remaja yang masih mencari jati diri. Hehehe....
Jika saya mempunyai targetan untuk bisa segera menikah, maka saya siapkan sedini mungkin ilmu-ilmunya dari lingkungan sekitar : hadir dalam majelis ilmu, wawancara langsung ke senior-senior yang sudah menggenap lebih dulu, baca buku seputar cara memilih pasangan (hidup), hak dan kewajiban pasutri, dll. Saat semester 6 di bangku kuliah S1, saya coba ikut acara SPN (Sekolah Pra-Nikah) Salman ITB. Biayanya saat itu 400.000 untuk 8x pertemuan di setiap minggunya (weekend). Jadi total lama SPN adalah selama 2 bulan. Uangnya darimana?
Alhamdulillah uangnya dari penghasilan saya sendiri (bisnis). Untuk masalah ini, saya mengikutinya diam-diam. Ga bilang-bilang ke orang tua apalagi teman-teman, tapi ada deh saya cerita ke 1 orang teman dekat saya. Mengikuti SPN ini adalah bentuk keseriusan saya dalam berikhtiar.
Jadi, sudah sejauh mana ikhtiarmu untuk menjemput si dia?

"Azzam (keinginan yang kuat) harus disertai dengan ikhtiar, do'a, dan tawakal"

Apakah ilmu saja cukup untuk menjemput jodoh? BIG NO!
Nah ini kiat-kiat menjemput jodoh (yang saya lakukan) :
1. Bertaubat kepada Allah

Kenapa bertaubat terlebih dahulu? Sebagai manusia tentu tidak luput dari dosa dan kesalahan-kesalahan. Apa salahnya memulai sesuatu yang baik (menikah) dari sebuah pertaubatan? Bertaubat berarti mengakui bahwa kita lemah di hadapan Allah bak butiran debu. Menangislah sejadi-jadinya di saat engkau bermunjat kepada-Nya di 1/3 malam. Lepaskanlah beban yang engkau rasakan dengan banyak bercerita kepada-Nya. 

2. Meluruskan niat
Jangan memulai dengan sesuatu yang Allah benci dan murkai jika ingin kelangsungan kehidupan yang berkah.

Ingatlah hadist arbain pertama ini :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya ) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan".
Mari luruskan niat Lillahita'ala (karena Allah).

3. Perbaiki diri
Harus ada perbaikan diri jika mau jodoh yang special (pake telor :D ). Setelah menikah, saya baru percaya bahwa memang benar jika jodohmu sesuai dengan kualitas dirimu. Mau cepat tahu seperti apa jodohmu kelak? Cepatlah bercermin, di sana engkau akan melihat gambaran jodohmu.

Oh ya, pernah saya baca dalam sebuah buku bahwa gambaran jodoh seperti ini.
Dalam rapot terdapat pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, kesenian, dst. Lalu ibaratkan :
Matematika = Nasab
Bahasa Indonesia = Kecantikan/ ketampanan
Bahasa Inggris = Ke-shalih/ah-annya
Kesenian = Harta
Allah menjodohkan mereka (A & B) yang mempunyai kualitas yang sama. Kualitas diri = total nilai rata-rata rapot si A dan B.
A & B masing-masing mendapatkan total nilai rata-rata yang sama, tapi PASTI berbeda bobot nilai masing-masing untuk pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan kesenian. Ada yang mendapatkan nilai yang lebih tinggi dan lebih rendah untuk masing-masing pelajaran, tapi seimbang untuk nilai akhirnya.
Begiculah cara mudah memahaminya~

4. Berdoa kepada Allah secara mendetail
Yup, kalau berdoa dan meminta ke Allah harus mendetail termasuk meminta teman (hidup). Kadang saya meminta ke Allah ingin yang begini dan begitu, tapi selalu di akhir perbincangan dengan Allah saya ucapkan : "Ya Allah minta suami yang shalih, baik akhlaknya, yang mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu. Dan semoga hamba-pun juga begitu. Eh tapi terserah Allah aja, yang penting Engkau ridha."
(silahkan kalau mau mengikuti doa seperti yang saya panjatkan).

"Ingat, ridha Allah di atas segalanya"

Jangan bosan juga untuk mendoakan jodohmu dan dirimu sendiri. Panjatkan doa di waktu-waktu yang mustajab : selesai shalat wajib, diantara selesai adzan dan iqamah, di 1/3 malam setelah shalat tahajud, ketika hendak berbuka puasa, saat hujan turun, dll. Kita tidak pernah tau di waktu yang mana Allah mengabulkan doa kita, ya kan?
Keep praying

5. Teliti dalam memilih pasangan
A. Bagi akhwat (wanita), kita sudah diberi panduan di Islam untuk memilih pasangan hidup. Coba simak hadist ini :
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022). 
Jadi, untuk para akhwat (wanita) pilihlah ikhwan (pria) yang agama dan akhlaknya baik, insyaAllah selebihnya baik. Tidak usah terlalu banyak kriteria ke-duniawi-an. Kalau Allah kasih lebih dari doa yang kamu panjatkan, berarti itu bonus dari Allah ^^

B. Bagi para ikhwan (pria), Islam pun juga sudah memberikan panduan untuk mencari separuh agama-mu. Coba simak hadist berikut :
"Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung. (Dikutip dari kitab mukhtar al-hadits an-nabawi hal 63 no 21).

It's only a matter of time

6. Ikhtiar di jalan yang Allah ridhai
Maksdunya di jalan yang Allah ridhai seperti apa?
Yaaa apalagi kalau bukan dengan TIDAK PACARAN, Jemputlah ia dengan cara yang terhormat :
a. Ta'aruf
=> perkenalan dengan niat serius ingin nikah, bukan niat ingin main-main atau iseng-isengan! 
b. Nadzar
=> melihat rupa calon.
c. Khitbah
=> meminang calon. Jika wanita sudah dipinang oleh seorang pria, tidak boleh ia menerima pinangan dari pria lain. Hati-hati di tahap ini buanyaaakkkk godaannya. Rasaian aja sendiri. Teruslah melakukan shalat istikharah hingga hari akad tiba!
d. Akad dan walimah
=> apalagi yang ditunggu dari seorang wanita selain kepastian? Bukan begitu wanita? Jika sudah sampai di tahap ini silahkan rasakan bahagianya merayakan cinta :)

"Ternyata ta'aruf dalam Islam lebih romantis daripada drama korea"


-bersambung-

Friday, September 16, 2016

Hijrah


Syahdan, menulis blog ini membuat saya bernostalgia tentang jalan hijrah yang sudah saya tempuh sejauh ini. Panjang juga ya ternyata & so precious.
Masa remaja adalah masa-masa menemukan jati diri. Butuh bimbingan banget, apalagi ketika gejolak-gejolak "itu" hadir.
Saat mengenal rasa suka dengan lawan jenis itu dimulai dari kelas 6 SD. Lambat laun semakin penasaran tentang rasa suka yang memang sengaja Allah hadirkan untuk hamba-hamba-Nya karena salah satu sifat Allah adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih) & Ar-Rahim (Maha Penyayang). Wajar saja saya suka dengan lawan jenis, pikir saya saat itu. Di bangku SMP, mulai penasaran dan ingin mengenal lebih dekat tentang lawan jenis, istilahnya kepingin dekat-dekat dengan mereka, tapi mungkin memang sifatnya perempuan kali ya suka jual mahal ke laki-laki (saat itu) sehingga beberapa teman laki-laki yang pernah coba "nembak", saya tolak semua. Hahaha...
Wajar sih ada monkey love di zaman ABG (bangku SMP).
Alhamdulillah saya lolos dari kata "pacaran" selama di bangku SMP, sehingga hasil nilai UN saya memuaskan. Disamping itu alhamdulillah kegiatan saya juga padat (cieee...) dengan kegiatan les bahasa Inggris dan bimbel. Jangan pacaran deh pokoknya, bikin boros waktu, hati, perasaan, doku (uang), dan pecah konsentrasi. Kesimpulan itu saya bikin sendiri karena melihat teman-teman SMP yang pacaran. Ada yang nangis di kamar mandi karena si pacarnya selingkuh (yaelah!), nilai pelajaran jadi turun sehingga dia dipanggil sama guru, dan masih banyak lagi realita tentang ruginya pacaran. Salah satu yang bahaya juga dari pacaran adalah ketika sudah bukan Allah lagi yang pertama mengisi hati, tapi si cimon (cinta monyet).
Allah Maha Pencemburu loh!

Memasuki bangku SMA, rasa suka terhadap lawan jenis tidak terlalu menggebu-gebu daripada saat di SMP karena semakin banyak kegiatan-kegiatan di sekolah. Saat itu saya ikut ekskul bahasa Jepang yang membuat saya sampai saat ini masih keep in touch dengan orang Jepang, kegiatan paskibra sekolah, les bahasa Inggris, dan bimbel (wiihh makin padat ya jadwalnya). 

"Alihkan rasa suka ke lawan jenis dengan melakukan banyak kegiatan-kegiatan yang positif, jadi pikiran tidak fokus ke situ terus"

Memang kita tidak bisa nolak rasa indah yang tiba-tiba hadir, tapi kita masih bisa meminimalisir dengan cara mengalihkannya. Jangan nyerah dulu !

Di bangku kelas 2 SMA semester 2 adalah titik balik kehidupan saya (hijrah), yang tadinya saya sangka hidup akan dibiarkan mengalir begitu saja : bayi ---> anak-anak ---> pendidikan formal (SD - kuliah) ---> kerja ---> menikah ---> punya anak ---> masa tua ---> kembali ke Sang Pencipta.
Ternyata tidak begitu kawan. Hidup tidak segetir itu. Saya yakin 100% setiap orang pasti mempunyai "titik balik" dalam kehidupannya yang membuat dia semakin mengenal siapa Penciptanya, asal dia memang ada niat untuk mengenal-Nya lebih dalam dan jauh, cepat atau lambat.
Kelas 2 SMA semester 2 awal mula saya hijrah menutup aurat walau belum rapat-rapat amat sih (kerudung masih pendek, pakai celana jeans, pergelangan tangan & telapak kaki masih terbuka).


Melalui kegiatan mentoring saya mulai mengenal Islam dan ternyata Allah memberikan hidayah-Nya melalui tulisan-tulisan di internet (di blog orang). Makasih banget untuk penulis blog yang sudah berkenan saya baca blognya. Semoga kalian mendapatkan pahala yang berlimpah karena telah menjadi salah satu jalan hijrah saya :) . Aamiin...

Kelas 3 SMA, saya mulai ulurkan kerudung hingga menutup dada, tapi masih 1 lapis. Rasa tidak nyaman berhijab nerawang itu muncul ketika saya semakin penasaran bagaimana Islam mengatur secara detail cara wanita untuk berpakaian yang menutup aurat. Saya banyak keliru selama ini. 
Cara berpakaian muslimah yang diajarkan dalam Islam :
1) Kerudung tidak nerawang
Konon katanya, imajinasi laki-laki itu 4D. Kalau lekuk lehermu keliatan, apalagi selanjutnya yang dibayangkan laki-laki lebih jauh saat melihatmu ketika itu?
2) Pakaian tidak menyerupai laki-laki
"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang berpenampilan seperti laki-laki (HR. Bukhari)
3) Pakaian tidak ketat/tidak membentuk lekuk tubuh
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).
4) Memakai kerudungnya tidak boleh seperti punuk unta (alias dipakaian konde, sumpelan atau ikatan rambut yang tinggi)
Cek hadist yang di point no 3
5) Menutup seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan
Berarti kaki termasuk aurat ya ! Segera pasangkan kaos kaki.
6) Tidak tabarruj
7) Kerudung diulurkan sampai menutup dada

(alhamdulillah inilah saya yang sekarang)

Benar-benar Islam memuliakan wanita ternyata ya :)

"Sami'na wa atho'na (kami dengar dan kami taat)"

Kepada yang sedang atau sudah penat dengan kehidupan dunia, cobalah berlari menjemput hidayah. Minta ke Allah agar diberikan hidayah.
Pun ketika saya mencoba untuk mengikuti apa yang sudah diatur sama Allah, terdapat penolakan dari keluarga sendiri. Hehehe Allah sedang menguji seberapa kuat niat saya untuk berhijrah. Wuusshh cobaannya mantap!

"There's a will, there's a way, insyaAllah"

Coba baca kutipan ayat Al-Qur'an di bawah ini :
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal" . (QS Ali Imraan : 159-160)

Ingat, keraguan itu datangnya dari Syaithan yang istiqamah menggoda manusia...

"I hear, I know
I see, I remember
I do, I understand"

Dengan taat melaksanakan perintah-Nya, kita akan mengetahui hikmah dibaliknya. Mengapa wanita harus begini, begitu, tidak boleh begini dan begitu. Udah, ikutin aja titah-Nya. 
:) :) :)

Di dunia kampuslah (UNPAD) saya menemukan wadah tumbuh yang baik setelah sebelumnya di dunia SMA saya mendapatkan hidayah, selayaknya bakteri akan berkembang dan tumbuh dengan cepat di media yang sesuai dengannya.

-bersambung-

Thursday, September 15, 2016

Istikharah Cinta part 1


"Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hati kamu akan meleleh karena cinta kepada-Nya"

Biarkan saya berbagi kisah dalam hal penantian si dia. Dia yang tidak saya ketahui namanya, bentuk rupanya, sifatnya, apa dia yang sudah saya kenal sebelumnya atau bahkan 0% saya tahu tentangnya. Setiap ada yang bertanya : "Dila kapan nikah? Ga punya pacar?".
Jawab saya : "Dia masih diumpetin sama Allah. Tenang aja dia lagi on the way kok".
Itu kalimat motivasi yang saya bikin sendiri, karena saya percaya cepat atau lambat dia pasti akan sampai di tujuan. Allah pasti akan mempertemukan!

Ketika saya sudah berhijrah di bangku SMA, alhamdulillah Allah menuntun saya di dunia perkuliahan untuk lebih jauh lagi dalam mengenal Islam. Sejenak saya mencoba menelusuri kembali cara-Nya dalam membimbing saya.

"Kalau kita tidak meminta ke Allah agar dibimbing, yaaa Allah tidak akan membimbing, jadi mintalah kepada-Nya"

Jadi, setiap selesai shalat, rutinkan meminta ke Allah agar diri ini dibimbing selalu di dunia dan akhirat. Ga usah gengsi meminta permintaan yang banyak ke Allah, malah Allah akan senang mendengarkan rintihan hamba-hamba-Nya :)
Baiklah, saya coba flashback lagi selama di dunia kampus. Dulu, saat di ujung tanduk (kelas 3 SMA) saya pernah meminta ke Allah tentang masa depan saya. Sungguh saya masih buta dengan dunia perkuliahan seperti apa, mau universitas dan jurusan apa, dll. Saya ga mau ambil pusing, akhirnya saya cari gampangnya aja, minta ke Allah secara blak-blak-an seperti ini :
"Ya Allah, berilah hamba universitas dan jurusan yang baik untuk masa depan dunia & akhirat hamba. Sungguh, hamba bingung, ga punya gambaran masa depan akan seperti apa. Bimbing hamba Ya Allah..."
Doa itu terus yang saya panjatkan di setiap akhir shalat. Terkadang aneh, banyak orang-orang yang setiap selesai shalat malah langsung chaw (pergi), tanpa menyelipkan sebuah doa di akhir shalatnya, padahal itu waktu yang mustajab loh.

"Berdoa dan memintalah kepada-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doamu pasti akan dikabulkan, dan berprasangka baiklah kepada-Nya"

Seiring berjalannya waktu, Allah menakdirkan saya untuk berkuliah di Farmasi UNPAD. Pun, itu fakultas dan universitas saya memilihnya atas saran dari kakak bimbel NF (kak Dion). Saya cuma konsul seperti ini : "Kak, aku mau ambil di bidang kesehatan. Tapi ga mau kedokteran. Fakultas & universitas apa yang bagus ya kak untuk prospek kedepannya?".
Ya udah saya coba daftar sesuai saran kak Dion tadi, dan hanya sekedar tau farmasi itu tentang obat-obatan. Eeeehh ternyata keterima di sana. Sebenarnya saya juga keterima di akuntansi (paralel) UI, hmm tapi itu pilihnya iseng-isengan aja, ga serius mau di akuntansi.
"Farmasi? Apaan tuh? UNPAD? Dimana tuh?"
Bismillah, semoga ini memang jawaban doa saya & pilihan dari Allah. Percaya aja ke Allah.

Hmmm dunia perkuliahan...
Kalo menurut saya, dunia perkuliahan itu dunia yang penuh akan amanah dan tanggungjawab. Tanggungjawab kepada orang tua, masyarakat, dan ke Sang Pencipta (wiihh berat ya?). Iya! Kuliah itu jangan main-main, seriusin. Bikin targetan-targetan yang orang lain ragu terhadapmu (nah loh!). Ga apa-apa sekarang mereka meragu, tapi bisa kita buktikan di waktu yang akan datang. Sejak semester 1, saya udah bikin tulisan impian-impian di 2 lembar kertas yang saya tempelkan di dinding kamar kosan. Hmmm baru ada 70 mimpi saat itu. Nah sekarang masuk ke bagian bagaimana Allah menjawab doa-doa saya saat di ujung tanduk "dulu".

Pertama, Allah mempertemukan dan mengumpulkan saya dengan senior-senior yang masyaAllah luar biasa prestasinya dan begitupula dengan amanah-amanahnya. Baru juga di tahun pertama, saya sudah diberi amanah di rohis nya farmasi unpad (PHARMA).

"Berkecimpung dengan amanah di dunia organisasi, membuat saya semakin tau kualitas diri"

Psssttt kalo cari teman (hidup), bisa diliat dulu ia pernah mempunyai amanah dimana saja dan sebagai apa. Dari sana bisa terukur kualitas dirinya dan besarnya tanggungjawab yang pernah ia emban. 

"Setiap orang yang kita temui adalah guru bagi yang lain, pun diri kita sendiri adalah model berjalan bagi yang lain. Maka, berhati-hatilah dalam berbuat dan beramal"

Kata-kata itu yang selalu saya pegang dalam berbuat dan beramal. Kalo orang lain mencontoh perbuatan baik saya, alhamdulillah saya mendapatkan pahala yang selalu mengalir, tapi jika sebaliknya, maka saya akan mendapatkan dosa yang mengalir tanpa disadari. Saat di tahun ke-2 dan ke-3 amanah yang datang bertambah berat. Mungkin ini salah satu cara Allah menjaga diri saya dari lingkungan yang kurang baik di dunia perkuliahan. Dimulai dari tanggungjawab akademik, organisasi, dan kepanitiaan, saya lakoni dengan selalu berbaik sangka ke Allah : "Allah pasti punya maksud dalam memberikan amanah-amanah ini". Oya yang tak kalah pentingnya, setiap minggu jangan lupa berikan asupan makanan untuk rohani kita dengan banyak mengikuti majelis ilmu, seperti halaqah (mentoring/ liqo), kajian-kajian, dan mabit. Saat mulai mengenal halaqah inilah semangat saya bertambah beribu-ribu kali lipat. Semangat berprestasi karena-Nya. Saya jadi tau tujuan hidup, yang sebelumnya saya masih bertanya-tanya "untuk apa sih hidup di dunia?".

"Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku"
(Q.S Adz-Dzaariyaat : 56).

Ketika kita telah mengetahui tujuan hidup, insyaAllah hidup akan lebih terarah. Allah akan bimbing dengan sebaik-baiknya bimbingan.
Pada tahun ke-3 (2013), saya sudah mencari-cari judul untuk skripsi + dosen pembimbing dan berbisnis. Niat berbisnis hadir ketika sudah gregetan di pasaran susah menemukan pakaian untuk muslimah yang "benar" / syar'i untuk saya sendiri. Cari bahan sendiri, design model sendiri, dan produksi sendiri. Lama-lama banyak teman yang melirik dan tertarik, akhirnya diproduksi lebih banyak, hingga saat ini. Alhamdulillah...
Pada tahun ke-4, amanah yang Allah berikan lebih beraaattt lagi dan lebih serius. Saya kira amanah yang datang akan ringan, tapi Ia berkata lain. Kalau boleh cerita, di tahun ke-4 ini puncaknya kepala saya pusing ga ketulungan. Fikiran & tenaga terfosir banget sampai-sampai muncul cita-cita baru yaitu ingin mempunyai kemampuan membelah diri seperti AMOEBA. Aneh sih, tapi ingiiiinnn sekali mempunyai kemampuan seperti itu. Dan di tahun ke-4 pula, mimpi saya dari semester 1 terwujud : "Pokoknya selama di bangku kuliah harus bisa ikut pertukaran pelajar ke negara luar. Perluas wawasan keilmuan dan budaya". 

(pharmacy student exchange 3 minggu)


(egyptian pharmacist, spain pharmacist dine out)


Kapan nih masuk ke cerita istikharah cinta nya?
Sabar...
Sebentar lagi....

"Dan menantimu adalah tentang bagaimana cara mengisi setiap detik dengan sebaik-baiknya ikhtiar, kesabaran, keikhlasan dan sebuah keyakinan bahwa kamu-pun pasti juga melakukan hal yang sama di koridor-Nya"

"It's enough for me to believe Him that He will guide us to meet"

-bersambung-

Monday, September 12, 2016

Prolog


Dari Umar radhiyallahu'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai kemana ia hijrah."
(HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadist)

Banyak diantara kita yang pandai membuat rencana, tapi malas untuk mengeksekusi.
Padahal, sebaik-baiknya rencana, adalah rencana yang dijalankan.
Mungkin ada yang lupa kita lakukan sebelum membuat rencana; memperkuat tekad.
Karena seberapa hebatpun sebuah rencana, akan sulit untuk dijalankan, kalau kitanya tidak punya keinginan yang sungguh-sungguh.

Ada beberapa hal tak terduga yang datang.
Ada banyak rencana yang harus dirapihkan.
Ada beberapa kerikil yang menyulitkan langkah.
Ada beberapa keinginan yang perlu disesuaikan.
Ada tekad yang masih perlu dibulatkan.
Ada niat yang harus lebih diluruskan.
(MH by NA)

-bersambung-

Monday, July 18, 2016

Friendship : Jepang-Indonesia (1)

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui" (QS Ar-Rum : 22).

Semua cerita bermulai saat aku masih duduk di bangku SMA kelas 2 semester 2 (bertepatan saat aku memulai hijrah juga untuk menutup aurat).

Bismillah...
Perkenalan dengan otousan dimulai ketika aku tertarik banget sama Jepang-jepangan. Saat di SMA, mulai dari kelas 1 sudah diminta untuk memilih ekstrakulikuler. Ada banyak pilihannya, tapi karena aku memang suka dengan bahasa, aku memilih ekskul Bahasa Jepang. Waktu yang diberikan sekolah untuk ekskul adalah 2 tahun dimana di tahun ke-3 dipakai untuk jadwal-jadwal tambahan sekolah untuk menopang latihan UN. Kalau bahasa tambahan yang ada di SMA 12 Jakarta yaitu bahasa Jerman dan Inggris.
Ga pusing tuh belajar 3 bahasa saat SMA? Inggris, Jepang, dan Jerman?
I said : "BIG NO. Es macht Spaß. Tanoshii dayo"
Awal mulanya terinspirasi dari Ir. Soekarno yang dapat menguasai 5 bahasa asing dimana saat berpidato, di tiap paragrafnya beliau menggunakan bahasa yang berbeda-beda tanpa teks (*.*)
Kelas bahasa Jepang dibuka setiap Sabtu pagi mulai dari jam 08.00-10.00 (berasa cuma sebentar).
Lalu dulu lagi booming-booming-nya aplikasi chatting Nimbuzz.

Let me tell you how I met otousan and still counting...

Di chatting nimbuzz, aku ikutan group chat yang isinya orang-orang yang sama-sama suka Jepang. Maksudnya mau sekalian aplikasiin ilmu ekskul jepang yang sudah didapat untuk dipakai sehari-hari. Jadilah bahasa mengobrolnya di group itu memakai bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Seru deh!
Lalu ada seorang teman dengan id (kalo ga salah) @louis_vico yang chat personal ke aku. Menanyakan "suka banget sama Jepang ya? Bisa bahasa Jepang juga?" and I said "BIG YES".
Dia bertanya kembali "mau dikenalin sama orang Jepang asli ga? Enak tuh ngobrol langsung" and I said "eerrrr,, oke".
Setelah itu, aku dikenalkan dengan orang Jepang, dipanggilnya otousan (bapak). Chatting dengan otousan aku lakukan di yahoo messanger. Selalu excited ketika melihat YM otousan menyala. Kalau tidak otusan yang menyapa duluan, pasti aku yang menyapanya duluan. Aku niatkan hanya untuk improvisasi bahasa Jepang yang sedang aku pelajari di sekolah. Ketika ada kosakata baru, yaa aku catat, dan kalau ada kalimat yang tidak aku mengerti artinya, aku tanyakan ke sensei (guru) saat ekskul. Jadilah ketika kelas ekskul telah selesai, aku murid terakhir yang keluar kelas karena mau konsul dengan sensei. Kegiatan chatting sama otousan ga hanya sekedar ngobrol aja, tetapi bertukaran foto. Otousan mengirimkan foto keluarganya. Waaaww semakin menyenangkan pelajaran bahasa jepang :D
Selanjutnya...
Otousan ingin mengirimkan sebuah surat, uang yen, dan banyak foto-foto keluarganya. Di suratnya tertulis uang yen untuk mengirimkan kembali surat balasan ke Jepang. Widiiiwww :O
Aku ceritakan ke orang tua tentang perkenalan aku dengan otousan. Tau apa reaksi mama papa?
"Itu ga bahaya kenalan sampai segitunya? Kan kita ga kenal sama otousan" kata mama.
Memang ada sedikit kekhawatiran seperti yang mama katakan, tapi itu cuma sedikiiitt, selebihnya berisi rasa nyaman dan percaya sama otousan.
Akhirnya dilanjutkan lagi pertemanan beda negara ini. Toh alhamdulillah membantu aku untuk terlatih berbahasa Jepang.

(surat pertama dari Jepang, 2009)

Aku kasih unjuk surat beserta isinya ke orang tua agar lebih percaya kalau otousan ini memang baik dan bersahabat :) Akhirnya mama papa percaya. Hehehe...
Saat itu aku ceritakan juga perkenalan dengan otousan ke kakek aku, dan beliau senang sekali mendengarnya. Unfortunately, kakek aku meninggal beberapa bulan setelah surat itu sampai di rumah.
Kalo kata mama : "dila dapat kakek angkat dari Jepang ya?".

(pertemuan pertama, 2010)

Saat itu, okaasan mengajari kami tradisi cara membuat ocha. Baru tau kalo ada langkah-langkahnya =.="
(Kiki, otousan, okaasan di daerah pondok bambu)

Setelah pertemuan itu, obrolan kami semakin sering dan seru, hingga setiap kali otousan berkunjung ke Indonesia, otousan selalu mengabari aku untuk bisa bertemu. Di tahun 2011, otousan mengabari ingin main ke rumah aku. Waduuhhh... harus berbenah dan merapihkan rumah ini mah. Kedatangan tamu orang Jepang. Semua keluarga aku speechless...
Kali ini otousan datang berdua sama mas Luthfi (orang Indonesia yang kerja di Jepang dan udah kenal lama sama otousan). Selama pertemuan, kami berbincang-bincang ria dan masih banyak dibantu bahasa Jepangnya sama mas Luthfi. Da aku mah cuma bisa bahasa Jepang yang ala kadarnya. Belum bisa casciscus...
(pertemuan kedua, 2011)

Oleh-oleh curry nggak aku makan karena setelah di konfirm ke teman yang jago bahasa Jepang, ada kandungan babi nya di kuahnya. Yaaahh, zannen desu ne...
Paling suka sabun yang dari susu sapi. Enak banget wanginya :D
(dibawain oleh-oleh dari Jepang)

Dan otousan kian ketagihan untuk datang kembali ke Indonesia. Pertemuan yang ke-3 kali ini, otousan membawa serta temannya. Namanya Kawano.
I feel sooo excited \(^.^)/
Puruzento arigatou ne... Otousan wa ii desu yo...
Oh iya kalo ga salah, untuk bertemu dengan otousan yang kali ini penuh perjuangan karena otousan kasih kabar mendadak mau main lagi ke rumah. Aku kuliah di Jatinangor (Sumedang) dan langsung chaw ke Jakarta setelah mengikuti 1 mata kuliah aja di pagi hari (08.00-09.45). Bolos beberapa mata kuliah.
(pertemuan ketiga, 2012)

Otousan sungguuuhhh perhatian. Untuk menunjang belajar bahasa Jepang aku, otousan memberi hadiah kamus translate digital Inggris-Jepang. Hounto ni arigatou (T.T)
(arigatou)

Dan pertemuan-pun masih berlanjut sampai aku sudah di ujung masa-masa perkuliahan. Sedih juga sebenarnya ketika sudah tidak punya waktu yang cukup untuk melanjutkan belajar Nihongo (bahasa Jepang).
(pertemuan keempat, lupa tahun)

Ada satu pertemuan lagi dengan otousan di Bandung. Kali itu aku pergi sama abang sepupu untuk bertemu sama otousan.

Daaannnn baru saja kemarin (17/7/2016) jam 18.08 otusan tiba-tiba me-video call ke line aku.
What a surprised !!!
"angkat...nggak...angkat...nggak..." galau.
Akhirnya sebelum aku angkat, aku langsung menyambar mukena dan memakainya.
"Mati gue, ngomong apa ini" gerutu dalam hati.
Bahasa Jepang yang dulu aku pelajari semenjak SMA belum berkembang, jadi lagi..lagi.. ngobrol sama otousan, okaasan, dan yua chan (cucuk otousan) memakai bahasa Jepang yang ala kadarnya. Banyak yang diobrolin, tapi terkendala improvisasi bahasa.

Ayoooo Diiiilllll belajar lagi bahasa Jepang. Ganbatte. Take your time, buddy.

(video call mendadak Indo-Jpn)

Jya, 11gatsu matane :)

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (Al-Huujurat : 13).