Monday, March 13, 2017

So which of the favors of your Lord would you deny?

"If Allah is making you wait, then be prepared to receive more than what you asked for"

Saya merasa begitu bahagia di tanggal 28 Februari 2017 karena itu adalah hari ulang tahun saya yang ke-24 sekaligus dapat hadiah spesial dari Allah berupa hasil TP +. Niatnya mau ceki-ceki di hari Jum'at tapi suami nyaranin coba cek besok (Selasa, tgl 28). Takut hasilnya php lagi, maka saya cek dengan perasaan yang tidak terlalu berharap sama hasilnya. Awalnya pas ngelirik sedikit ke alat TP hanya muncul satu garis jelas dari yang paling atas (C-C), lalu didiamkan selama 30 detik, lambat laun samar-samar muncul garis kedua (T-T). 
Ini seriusan positif hamil hasilnya?
Aaahh jika Allah berkehendak maka tak ada yang mustahil. Allah gitu, PHP (Pemberi Harapan Pasti).
Alhamdulillah...


Kalau mau TP, sebaiknya dilakukan saat pagi hari di urin pertama karena akumulasi hormon HCG (hormon yang dihasilkan oleh plasenta yang sudah menempel di rahim) sedang banyak/pekat jadi alat TP mudah mendeteksinya. Sebenarnya kalau memang sudah yakin hamil, TP bisa dilakukan sepanjang hari (ga harus di urin pertama pagi hari) karena hormon hcg udah diproduksi dari si plasenta.
Minggu depannya cek ke dokter untuk di USG. Huwaaa pengalaman kedua. Pas yang pertama pernah di bulan Desember'16 ternyata hasilnya rahim masih bersih. Alhamdulillah ga ada gangguan juga di rahim seperti miom. Psstt miom itu bisa terjadi karena kita terlalu banyak dan sering makan makanan yang ber-MSG loohh alias vetsin. Kalau ada miom di rahim, harus dibersihkan dulu miomnya agar ketika hamil, nutrisi yang calon ibu makan diperuntukan untuk si bayi bukan malah diserap sama miom.
Ayooo yang masih gadis, hindari makanan yang memakai MSG atau vetsin seperti di mie instant, makanan dengan penambahan bumbu-bumbu siap saji (r*yc*, s*s*, dll). Lebih baik mencegah daripada mengobati ;)

see little black hole on left side

Rasanya deg-deg-an menatap layar monitor dan menanti ucapan yang akan keluar dari bu dokter : apakah si janin memang sudah ada dan posisinya berada di tempat yang kokoh (rahim)?
Dan suami pun juga merasakan hal yang sama, deg-deg-an ingin melihat si mahluk unyil itu.
Alhamdulillah kata selanjutnya yang keluar dari mulut bu dokter adalah janin sudah berada di dalam rahim. Sepengetahuan saya, ada juga janin yang menempelnya bukan di rahim melainkan di tuba falopi (saluran dari ovarium ke uterus/rahim) dan itu akan mengakibatkan janin tidak bisa berkembang dengan baik karena sempitnya tempat untuk ia berkembang nanti.


"Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan"
(Q.S Al-Mursalat : 20-23)

Keterangan selanjutnya yang disampaikan oleh dokter yaitu umur bayi yang sudah memasuki 1 bulan dan ukurannya 0,4 cm. Cepat sekali udah 1 bulan umur dedek bayi.
Kini, kekuasaan Allah begitu nyata di dalam diri saya sendiri tentang sebuah hakikat penciptaan manusia.

"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"
(Q.S Ar-Rahman : 28)

Please be healthy dear baby till we meet in November 2017 :)

Monday, January 16, 2017

Cerita dalam cita-cita

Siapakah yang tak ingin bila setiap mimpi dan harapannya didoakan agar terwujud dan terpenuhi?
Disuguhi kalimat-kalimat dorongan penuh semangat hingga bahkan tawaran bantuan agar cita-cita itu tak hanya sekedar impian.
Tentu tiada hati yang menolak untuk dipayungi keteduhan dalam mengarungi masa-masa terik perjuangan.
Langkah kaki biar kecil, biar tak melulu diajak berlari namun setidaknya mampu bertahan menjejaki petualangan yang kadang seakan tak tampak dimana ujungnya.
Godaan untuk berhenti sama sekali, rayuan yang berbisik-bisik agar mengubah haluan seringkali datang sekehendaknya.
Saat kita tegar, ia hanya serupa angin lalu yang bertiup sesekali.
Namun, dalam masa-masa kritis, tiba-tiba hadirnya begitu sulit untuk diabaikan.
Mendadak ia menjadi penting.
Mengganggu bangunan mimpi yang telah lama kita rancang sebelumnya, tapi selalu saja ada nilai dibalik itu.
Bukan tujuan yang semata-mata berharga, melainkan juga perjalanannya.
Tebing yang terjal membuat lengan kita jauh lebih kuat.
Melahirkan sepasang mata yang cerdik dalam memilih pegangan, serta langkah yang penuh kehati-hatian, namun berani mengambil keputusan.
Dalam berlayar menggapai impian, tak selamanya kita akan berkawan dukungan.
Tatapan sinis meremehkan.
Kata-kata pedas merendahkan, atau gelak tawa mencemooh adalah gelombang besar dalam lautan cita-cita kita.
Dia pasti datang.

Namun coba saksikan.
Seorang laki-laki yang membangun bahtera itu.
Bahtera yang demikian besar itu ia bangun dengan penuh cinta dan ketekunan.
Kerja yang berselimut kesabaran, sabar dalam menitinya hingga rampung dan sempurna, juga sabar menjadi bahan ejekan dan tertawaan.
Tapi ia tetap bekerja.
Bahtera itu adalah juga bagian dari masa depannya.
Masa yang belum tiba.
Masa yang belum datang berkunjung, hingga saat itu betul-betul hadir, nyata, segala upaya dan kerja kerasnya tak sia-sia.
Di sinilah kita belajar tentang ketekunan dan kesabaran.
Belajar untuk meresapi kesadaran bahwa mimpi-mimpi kita, harapan-harapan kita tak hanya menjanjikan wajah penuh senyum, serta dada yang lapang berbunga-bunga.

Biar saja, biar saja salju yang penuh pesona itu hadirnya ditemani dingin yang membekukan.
Dan biar saja, cita-cita kita sempurna menjadi nyata dengan membawa ceritanya :)


by : dokterfina

Friday, January 13, 2017

Aku, kamu, dan diary biru

Cerita ini bermula di tahun 2012.

Siang itu, aku yang masih menimba ilmu di bangku kuliah semester 5 pergi ke sebuah stationary yang cukup tenar di kalangan mahasiswa unpad Jatinangor. Niat datang ke sana hanya untuk membeli beberapa alat tulis. Saat mengantri di kasir, seperti biasanya aku terlebih dahulu melihat agenda-agenda yang terpajang di rak.
"Ingat yaaa cuma liat-liat aja, ga usah dibeli kalau ga butuh-butuh banget" aku menasihati diriku sendiri.
"Iya cuma liat-liat aja kok. Eh tapi kok buku biru ini eye catching ya? Coba aahh buka-buka tampilan isinya. Kalo enakeun, kayaknya mau beli. Covernya unik, warnanya biru muda yang cantik, dan harganya ga mahal-mahal teuing" aku me-lobby diriku sendiri.
"Heeii jangaann dibuka-buka, nanti khilaf loh pada akhirnya :p " si hati nurani berbicara lagi.
Ternyata sesampainya di kasir akhirnya belanjaanku bertambah (dengan sendirinya). Ga sadar si buku catatan biru itu sudah masuk ke dalam kantung belanjaan, dan kini kakiku melangkah pulang menuju kosan.
"Dasar perempuan..." batinku.


Saat tiba di kamar kosan, aku merebahkan diri di kursi belajar, membuka kantung belanjaan tadi, dan mengeluarkan semua isi belanjaan.
"Terbeli juga si buku biru ini. Enaknya digunain untuk apa ya?" begitulah perempuan kalau membeli barang tanpa sengaja.
"Aha! Buku ini dijadiin buku diary sepertinya asik juga. Eehh jangan diary istilahnya, kayak anak abg aja. Masa harus tulis : "dear diary..." , duh ga banget" aku berfikir keras.
"Gimana kalau buku ini digunain sebagai buku unek-unek? Lebih tepatnya untuk buku perantara antara aku dan "dia" yang berada di masa depan sana".

Baiklah, begini penjelasannya :
Aku menyebutnya sebagai buku perantara dengan seseorang yang masih ghaib di sana. Nama "dia" aja belum ada apalagi rupa fisiknya. Di sisi lain, aku-pun juga mempunyai kerinduan untuk segera berjumpa dengannya. Tapi bagaimana cara menyampaikannya?

Yaaa saat itu aku berfikir simple : "segala bahasa kerinduan aku tuliskan di dalam buku perantara ini termasuk unek-unek kehidupan. Bahasa yang kugunakan adalah bahasa obrolan seolah-olah aku memang sedang bercerita banyak dengan si "dia". Aku memanggilnya dengan nama "Bi...".

Oh ya sesekali aku ajukan pertanyaan untuk dijawab nanti olehnya.

Suatu hari kelak, jika Allah sudah mempertemukan & mempersatukan dalam akad, akan aku kasih si buku biru kepadanya agar ia tahu sudah lama aku ingin bertemu dengannya & agar ia tau segala usahaku dalam menjaga diri. Yang aku rasakan saat itu adalah setidaknya rindu ini cukup terobati setiap kali aku selesai menulis di setiap lembarnya.

2017
Kini, aku berubah pikiran untuk tidak jadi memberikan si buku biru itu. Maluuuuu kalau bahasa alay bin ababil ini jika harus sampai dibaca olehnya 😂😂😂

Jakarta, 13 Januari 2017

Dan baru saja hari ini ia "yang sudah nyata di hadapan" memintaku untuk diberitahu dimana si buku biru itu aku simpan.
"Duuhh kenapa si mulut ini dengan ringannya menceritakan tentang si buku biru itu? Aahhh kan keceplosan!" aku memaki diriku sendiri.
Rasanya aku ingin menarik kembali ucapanku di kala siang itu, 3 hari yang lalu. 
Dan sebalnya, dia tetap saja meminta untuk diberi tahu, padahal aku berharap dia akan lupa seiring berjalannya hari.
Akhirnya aku memberikan clue dalam ucapan bahasa Inggris dimana letak buku biru tersebut sebelum aku naik travel menuju ke Bandung.


Bandung, 13 Januari 2017

Setelah sampai di kosan Bandung, aku meneloponnya.
Me = "gimana bi udah ketemu buku birunya?"
Him = "iya udah ketemu mi. Eh ada 1 lagi ya buku diary nya? Yang warna peach"
Me = "Diihh kok dapat aja bukunya? Padahal udah dikasih batas jarak anatara buki biru sama yang peach. Aaahhhh udahlah bi, cukup sampai nemuin buku-bukunya, jangan dibaca. Maluuuu sumpah!
Him = "Hahaha habisnya dari semua buku di rak buku, buku peach itu aneh. Jadinya coba dibuka & ternyata lanjutan tulisan yang dari buku biru itu ada di sana".
Me = "Aaahh sebel aahhh, padahal udah ditahan untuk nggak nyinggung sedikitpun tentang buku peach itu".
Him = "Hahahahaha...".

Poor me.... :(

--------------------------------------END--------------------------------------

Silahkan dicoba kalau mau ikutan buat buku perantara.
Asli, seru loohhh udah jauh-jauh hari menyiapkan sebuah hadiah sederhana untuk orang di masa depan :D

Monday, January 9, 2017

S2 dulu atau nikah dulu?

Semua manusia punya ingin, tapi terkadang "ingin" hanya sebatas ingin saja. Mereka lupa bahwa diperlukan ikhtiar untuk mebuat ingin menjadi wujud yang nyata. Transformasi ingin untuk menjadi nyata terkadang ada campur tangan Allah dan syaithan di dalamnya. Loh kenapa bisa?
Hmmmm mungkin lebih banyak godaan syaithan untuk menggoyahkan keyakinan dalam mewujudkan ingin. Syaithan akan istiqamah menggoda, waspada dan hati-hati !
Ingat, syaithan tidak suka manusia berada dalam keataatan kepada Rabbn-nya. Kembali ke topik tulisan : S2 atau nikah?
Ketika menulis ini, saya teringat sebuah iklan di tv yang mengangkat tema S2 atau nikah, dan di akhir iklan tersebut si wanita lebih memilih S2 dulu, setelah itu menikah.

"Jangan sampai dua kebaikan saling meniadakan" -Dila

Hmmm menurut pendapat pribadi saya, kesimpulan tersebut tidak tepat. Seharusnya wanita tersebut lebih memilih tawakal kepada Allah, bukan menarik kesimpulan dari pikirannya semata. Harus ada campur tangan-Nya karena Allah Yang Maha Tahu segala yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Pikiran manusia itu terbatas, sedangkan rencana Allah diluar batas ciptaan-Nya. Ya kan?
Jadi, S2 atau nikah dulu? 

"Selama kamu percaya dan yakin pada-Nya, hidupmu akan baik-baik saja" -Dila


Saya kala itu di sepanjang tahun 2016, tetap berdoa kepada Allah untuk dipilihkan pilihan yang terbaik. Mungkin jawaban dari Allah akan seperti ini :
1. S2 dulu
2. Nikah dulu
3. Keduanya sekaligus : S2 dan nikah
Sesekali saya meminta kepada-Nya kalau bisa Ia berikan pilihan yang no 3, dengan catataan saya menyandingkan doa agar dapat dimampukan menjalani keduanya : S2 dan nikah. Emang yakin bisa?
Yaaa saya pun tak tahu jawabannya, tapi saat itu saya yakin bahwa Allah akan memberikan amanah bagi hamba-Nya yang siap, untuk masalah mampu atau tidak, saya terus berdoa agar dapat dimampukan. Kalau ternyata Ia lebih memilih nikah atau S2 terlebih dahulu, saya sudah siap ikhlas terhadap pilihan-Nya.
Di pertengahan tahun 2016 Allah menjawab doa saya untuk melanjutkan kuliah, dan di penghujung 2016, Allah memberikan lagi jawaban atas pinta saya untuk menikah. Jaraknya begitu dekat yaitu 5 bulan semenjak perkenalan (ta'aruf) pertama. Setelah menikah, akan lahirlah ta'aruf-ta'aruf berikutnya.

"Menikah itu adalah proses ta'aruf sepanjang hayat" -Ust. Salim A Fillah


Dan kau hadir merubah segalanyaMenjadi lebih indahKau bawa cintaku setinggi angkasaMembuatku merasa sempurnaDan membuatku utuh tuk menjalani hidupBerdua denganmu selama-lamanyaKaulah yang terbaik untukku
"I believe that I received everything what I needed, not I wanted.Allah knows me better than myself"-Dila
Oh ya, tanggal 4, 5, dan 6 Januari 2017, saya pre-course MBA ITB di Cikole, Lembang. Suatu waktu, ada sesi perkenalan diri perkelompok. Saya dengan gembira mengumumkan bahwa saya sudah menikah, dan do you know what happened next?
Teman-teman sekelompok pada kaget. Langsung saja saya diwawancarai bak artis karena saya menikah dengan jalan ta'aruf-khitbah-akad :
1. Kapan nikahnya teh?
2. Kenal berapa lama?
3. Apa itu ta'aruf? Gimana prosesnya?
4. Kok cepat banget 5 bulan?
5. Tanda dia jodoh kita apa teh?
6. Dst
Tidak perlu waktu lama untuk membuat suasana seperti majelis ta'lim. Hahahaha.... Semuanya khusyuk mendengarkan cerita dengan sesekali diselingi pertanyaan-pertanyaan. Di akhir wawancara saya berpesan kepada teman-teman :

"Sesuatu yang baik (menikah), mulailah dengan cara yang baik pula" -Dila

Saya kira pembahasan tersebut hanya sampai di Cikole saja, tetapi kemarin (9 Januari 2017) saat menunggu acara pra-kuliah dimulai, teman yang ikut sesi diskusi di Cikole kemarin memberitahu kepada teman sebelahnya bahwa saya sudah menikah. Dan tak lama pula celetukan tersebut terdengar ke teman-teman sebelahnya, membuat yang lain ikut larut ke dalam pembicaraan. Ia nyeletuk seperti ini :
Teman : "Teh, aku tadi senang ngeliat teteh lagi pacaran sama suaminya".
Dila : "Laahh liat dimana? Kapan?"
Teman : "Tadi ngeliat di kantin salman lagi makan berdua, terus habis itu foto-foto di depan tulisan salman ITB sambil bercandaan"
Dila : "Eeeehhhh ooohhh hahahaha" *jadi malu (o^.^o)
Teman : "Kalo orang yang menikah karena pacaran mah aku ngeliatnya biasa-biasa aja, ga ada yang spesial. Tapi kalo ngeliat teteh tadi aku ngerasa senang gimanaaaa gitu. Beda hawanya"
Dila : "Hehe ya doonngg aku kan nikah anti-mainstream :D"
Teman : "Aku juga mau aahhh nikah kayak teteh"
Dila : "aamiin :) "

(foto-foto di depan salman)

"Keyakinanmu kepada-Nya akan menghilangkan berjuta ragu" -Dila

(jadi, sudah siap menikah tanpa pacaran?)

Selamat meluruskan niat, membumikan ikhtiar, dan melangitkan doa !

Saturday, January 7, 2017

Pulang Kampung 2016 : Rihlah ke Jepang (1)

Izinkan saya berbagi kisah lagi tentang kekuatan niat dan cita-cita. Tahun 2012 saat saya masih duduk di bangku kuliah semester 5, terbesit sebuah keingininan di dalam hati. Kadang sebuah keinginan harus cepat-cepat diubah bentuknya menjadi sebuah "niat".
"Yaa Allah, mau deh pergi ke Jepang gratis. Ga usah keluar doku (uang). InsyaAllah pasti nanti ada jalan. Aahhh tapi masa iya bisa? Gimana coba caranya bisa ke Jepang gratis? Hahaha jangan mimpi yang nggak-nggak lagi, Dila".
Terlebih lagi mama suka kewalahan mendengar mimpi-mimpi saya yang mau ini itu, rasanya tinggi sekali keinginan saya. Mungkin mama pernah sempat berfikir : dulu ngidam apa ya sampai punya anak kayak gini (keinginannya tinggi-tinggi semua)? Hahaha....
Dan bagi saya :

"Beranilah bermimpi besar karena kamu percaya bahwa Allah Maha Besar" -Dila

Ternyata memang benar Allah sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Nya.
Bismillah, ini adalah sebuah kisah tentang The Power of Believer...

11 Februari 2016

Saat saya sedang berada di rumah jahit produk Syar'i's Cool, tiba-tiba ada message masuk ke hp dari kenalan orang Jepang sejak tahun 2009 (saya biasa memanggilnya otousan). Tahun 2009 masih awal-awal fb hadir, jadi dulu saya chattingan dengan otousan lewat yahoo messanger dan berlanjut hingga saat ini. Kisah perkenalan saya dengan otousan dapat klik di sini .

Inti dari message otousan yaitu beliau ingin mengajak saya untuk pergi ke Jepang (dibayarin oleh beliau). Langsung saya jadi ga fokus lagi di rumah jahit karena bahagia sekali membaca message fb dari otousan :D
Memang sudah lama otousan ngomporin saya untuk dapat mampir ke rumah beliau di Jepang, bahkan menawari untuk homestay di sana. Masih percaya ga percaya. Mimpi yang pernah tidak sengaja terbesit di tahun 2012, kini datang untuk segera direalisasikan. Alhamdulillah...
Tadinya mau coba pergi ke sana di akhir Februari untuk melihat bunga sakura bermekaran, tapi rasanya mepet sekali dan juga ingin dapat tiket promo pesawat yang murah. Terus otousan menyaraknan untuk coba datang ke sana di bulan November 2016 untuk melihat daun momiji. Akhirnya saya sering membuka air asia untuk ikhtiar mendapatkan tiket promo di bulan November 2016. Setelah mama tau saya mendapatkan tawaran dari otousan, mama mau ikut juga, dan begitu-pun adik yang perempuan mau ngekor juga. Jadilah kami pergi bertiga ke Jepang ala backpacker.
Pembuatan visa dilakukan H-1 bulan sebelum keberangkatan.

(visa Jepang)

Visa Jepang cepat kok jadinya : 3 hari. Pembayarannya (Rp 330.000/orang) dilakukan saat visa sudah jadi. Oh ya, fyi, karena adek perempuan saya masih mahasiswa, jadinya visa untuk dia gratis (ga usah bayar). Alhamdulillah...
Baiklah petualangan ala backpacker dimulai dari tanggal 19-26 November 2016...
Nikah tanggal 13 Nov'16, chaw ke Jepang 19 Nov'16, so sayounara micua (diajak ga mau ikut siihh). LDR-an 1 minggu dulu ya.

Perjalanan dari Indonesia-Jepang kami tempuh 12 jam karena harus transit dulu di Malaysia. Normalnya kalau perjalanan langsung tanpa transit adalah 8 jam. Ga apa-apa, namanya juga jalan-jalan, dibawa senang aja. CGK-KL-HND.

(waiting room in CGK)

Pernah sempat ada drama di bandara KL. Ketika sampai di KL, kami kelaparan karena dari pihak air asia nggak dikasih makan & minum (yaaa mungkin namanya juga tiket promo), tapi ada sih pramugari yang jualan di dalam pesawat, kami memilih bersabar untuk makan di bandara KL. Harga makanan dan minuman di dalam pesawat mahal :(
Selagi menunggu 2 jam untuk keberangkatan selanjutnya, kami shalat, makan, dan muter-muter ke toko-toko yang ada di KLIA 2. Karena keasikan muter-muter, akhirnya kami masuk ke dalam penumpang "Last Call" (3 penumpang terakhir). Jadilah kami lari-larian untuk mengejar waktu keberangkatan pesawat. Mama yang sudah tidak muda lagi masih sanggup untuk berlari kencang menuju gate, coba bayangkan gate tersebut dapat ditempuh 10 menit dengan berjalan kaki, tapi kami tempuh 4 menit dengan berlari. Hahahaha..... semoga tidak terulang lagi :D
Alhasil ngos-ngosan setibanya di pesawat!

(let's go...)

Tiba di Haneda jam 23.45 (tengah malam). Kami dijemput oleh bang Danil (sepupu yang kerja di Jepang).
(Haneda)

Tiba di apato (apartemen) abang jam 2 malam. Langsung shalat jama' takhir maghrib & isya, habis itu tidur pulas. Paginya, saya sudah janjian mau bertemu dengan sahabat saya sejak SMA. Dia lagi S2 di Jepang. Udah lamaaaa ga ketemu. Pagi itu suhu di Chiba sekitar 7 derajat celcius. Brrrr....

(psstt.. kanan masih single loh :D )

(tengah : married, kanan & kiri : available)

(kabut di pagi hari)

(masih ada rumah tradisional)

Siangnya, kami pergi dari Chiba menuju Shizouka (tempat otousan tinggal) diantar oleh bang Danil dan temannya. Shizouka ini dekat dengan gunung Fuji. Cuma sebentar ketemu sama sahabat saya karena doi ga bisa ikut ke Shizouka :(
Perjalanan memakan waktu +/- 4 jam. Sesekali berhenti di rest area.

(mesin untuk memesan makanan)

(soba, udon, dan ramen)

Bedanya soba, udon, dan ramen yaitu :
1. Ramen : ukuran mie nya kecil. Kuahnya biasanya pake campuran babi.
2. Soba : ukuran mie nya kecil. Kuahnya pake kaldu ikan.
3. Udon : ukuran mie nya besar-besar. Kuahnya pake kaldu ikan.
Jadi, kalau mau makan yang aman dan halal di Jepang, bisa pesan soba atau udon. Rasanya lumayan enak. Pas di perjalanan saya melihat tempat makan Yoshinoya. Ternyata info dari abang, Yoshinoya itu kalo di Jepang aslinya ibarat warteg kalo di Indonesia.

(gambaran sekeliling tempat makan di rest area)

(baju merah : blasteran Cina & Jepang. Umurnya 24 tahun)

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami pergi ke toilet dulu. Terus saya kaget sama toilet ala Jepang karena tinggal pencet-pencet aja, jadinya norak deh foto-foto di dalam toilet :p 


(serba otomatis)

(tempat cuci tangannya otomatis)

(nyobain beli minuman pake mesin)

Minuman yang di foto atas itu teh susu, merk Kirin. InsyaAllah sudah halal. Enaaakkk rasanya :9
Selama perjalanan ada juga loohh ternyata kemacetan di tol. Ga hanya di Indonesia aja berarti ya. Perjalanan dilanjutkan dengan sesekali berhenti di tengah jalan untuk menikmati gunung fuji dan laut.




(tempat parkirnya gratis)

(Gn. Fuji dari pinggir laut)

Rasanya udah ga sabat mau cepat sampai di rumah otousan :)
Oh ya pas keluar tol Shizouka, saya kaget karena biaya tolnya mihil bingit, yaitu kalo di rupiah-in sebesar 500.000. Ckckck memang ya biaya hidup di Jepang tinggi.

-bersambung-

Tuesday, December 27, 2016

Menikah Itu Ibadah, Halal Itu Indah

"Begitu unik cara-Nya untuk mempertemukan dan betapa mudah cara-Nya untuk mempersatukan, jangan kau tanya bagaimana karena cara-Nya tidak akan sampai di logika"
-Dila

(mitsaqan ghaliza)

Kami menikah dengan step (dalam Islam) :
1. Ta'aruf (pengenalan)
2. Khitbah (lamaran)
3. Akad

Ta'aruf, bukan pacaran
Mungkin kata itu masih asing didengar oleh sebagian orang Indonesia. Apa sih ta'aruf itu? Let me tell you about this, dear shalihah. Eh tapi sebelumnya, ini definisi menurut saya dan suami ya ^^
Ta'aruf adalah sebuah proses pengenalan syar'i laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya untuk mengetahui visi dan misi masing-masing dalam membangun rumah tangga, semata-mata untuk mencari ridha Allah. Cara mengenalnya dapat melalui mediator/perantara (teman, guru ngaji, keluarga) yang amanah, saling bertukaran biodata lewat mediator, atau yang ekstrimnya (hehe..) si laki-laki langsung datang ke rumah perempuan untuk berhadapan langsung dengan wali perempuan : ayah. Kalau lama proses ta'aruf hingga akad maximal 3-6 bulan. Lebih cepat, lebih baik untuk menghindari godaan syaithan yang istiqamah menggoda manusia.
Isi dari ta'aruf itu sendiri intinya untuk menggali informasi seputar si calon baik itu background keluarganya, aktivitas dia sehari-hari, atau mengkonfirmasi info yang pernah didapat dari perantara atau teman-temannya, dll. Harus memberikan informasi yang sejujurnya, jangan ada yang ditutup-tutupi. Saat ta'aruf juga boleh saling 'curi-curi pandang' untuk melihat suatu ketertarikan yang mendorong si laki-laki untuk menikahi si perempuan (nadzor). Lihatnya ga usah sampai melotot ya akhi, ukhti. Lihat secukupnya aja.


”Bila seseorang dari kalian meminang seorang wanita lalu ia mampu melihat dari si wanita apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya”
(HR Abu Dawud)

Oya catatan penting nih, perempuan wajib menutup aurat ya ---> ingat, yang termasuk aurat wanita adalah seluruh badan kecuali wajah & telapak tangan, jadi, pakai kaos kaki dan mansetnya ya ukhti :)
Biarkan pertama kali si ikhwan itu menyukai agama & akhlakmu, bukan pada bentuk fisikmu.
Perbanyak shalat tahajud dan shalat istikharah agar Allah menetapkan pendamping yang terbaik untuk dunia dan akhiratmu. Enaknya dilakukan di 1/3 malam (kira-kira jam 03.00 - menjelang subuh).
Hasil shalat istikharah yang saya rasakan yaitu munculnya rasa "yakin" terhadapnya. Ga tau kapan dan darimana perasaan itu hadir dan seperti diri ini seolah membisikan 'aku mau memperjuangkannya' #eaaaaa.
Anehnya lagi selama proses ta'aruf hingga H-1 minggu menjelang akad, saya sama sekali nggak ingat rupa si mister. Pun itu karena menjelang akad saya masih lupa wajahnya, akhirnya dipaksakan untuk mengingat-ingat. Ada sih foto mister di facebook, tapi rasanya kok beda ya sama yang datang ke rumah.
Saya ambil hikmah : mungkin Allah sengaja tidak memberi ingatan kepada saya tentang gambaran dirinya agar ibadah saya tidak dihantui dengan rupa wajahnya :D (cerita jujur loh ini). Pun setelah nikah, ketika saya ceritakan hal ini ke suami, doi terkaget-kaget. Hehehe....
(mister)

Khitbah
Ketika sudah sama-sama OKE, maka lanjut ke proses peminangan (lamaran). Khitbah artinya peminangan yaitu seorang laki-laki meminang seorang perempuan, dan kalau seorang perempuan sudah dipinang oleh laki-laki lain, haram hukumnya saudara lelaki muslim lainnya meminang perempuan tersebut.
Tidak ada pacaran walaupun sudah resmi bertunangan! Ingat ya!

Akad
Jreeennggg.... kepastian ini yang sangat dinanti-nanti oleh kaum hawa. Betul kan? Ingat, ini hati, bukan jemuran yang bisa lama digantung :p
Rasa deg-deg-an itu mulai muncul ketika sudah mulai mencapai tahap pelafalan akad. Saya yang pada hari H ditempatkan terpisah dari meja akad (disuruh tunggu di ruang make-up), menanti dengan harap-harap cemas. Banyak pertanyaan yang hadir di benak saya , seperti :
1. Lancar ga ya akangnya ngucapin kalimat akad?
2. Akadnya udah belum sih? Kok ga kedengaran suaranya sampai sini? *ngedumel sama si sound system*
3. Duh nanti kalo disuruh datang ke meja akad harus gimana?
*sampai saat ini menulis blog ini, saya masih bisa merasakan gugupnya menanti saat akad, hehe...
(meminta izin menikah ke Papa)

  (suasana akad)
  
Alhamdulillah kata mereka yang menyaksikan, pelafalan akadnya berlangsung dengan lancar dan jelas :')
Tapi sesungguhnya hati ini masih ingin melihat secara langsung akadnya...

(keluar dari ruang make-up untuk disandingkan)

 (pembacaan hafalan ayat suci Al-Qur'an sebagai salah satu mahar)

(pegangan tangan untuk pertama kalinya, cieeeeee....)

 (penandatanganan berkas-berkas)


 (do'a)

Terimakasih kamu, terimakasih sudah menjadi jawaban atas doa-doaku; 
Seorang imam yang bisa membimbingku dalam urusan dunia serta akhirat, lelaki bertanggungjawab yang bisa menerimaku dengan sepenuh hati, juga seseorang yang aku harap bisa membuat hatiku tentram tanpa perlu melakukan apa-apa selain ada.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagaimana dengan kondisi Papa sendiri?

I think this picture can describe his feeling :')

Papa yang sedari awal menginginkan seorang menantu yang sama-sama masih satu suku (Minang) untuk anak gadisnya ini, akhirnya luluh dengan mister yang berani datang langsung ke rumah. Dia berasal dari Sunda. Entah apa yang membuat hati kedua orang tua akhirnya mau menerima, padahal tanggal 10 Juli 2016 itu adalah waktu pertama kali kami (saya & orang tua) bertemu. Saya sudah takut saja jika akan ada penolakan di awal (respon negatif), tapi qadarallah Allah Yang Maha Membolak-balikan Hati hamba-hamba-Nya. Alhamdulillah prediksi saya salah :D

"Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii 'alaa diinika"
(Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan Hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu)
"Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii 'alaa tha'athik"
 (Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan Hati teguhkanlah hatiku di atas ketaatan kepada-Mu)

Do'a di atas itu saya sering ulangi sembari membayangkan wajah kedua orang tua dengan maksud Allah berkenan menetapkan hati mama papa.

 (Gedung Perpustakaan Nasional RI)

".... and We created you in pairs" (Q.S. 78 : 8)

Entah kata siapa kalo jodoh itu ada kemiripan di wajahnya, seperti halnya ketika ada beberapa teman saya yang chat langsung ke saya karena melihat foto yang saya pajang di medsos (foto yang di atas). Mereka bilang kalo hidung dan senyumnya itu mirip. Kok bisa?
Yaaa mungkin "emang Allah udah tandain jodohnya dengan adanya kemiripan di pasangan" (just kidding).

(Surat An-Nisa : 1)

Terima kasih Allah, Engkau secara tidak langsung memberikan petunjuk-Mu di dalam surat An-Nisa : 1 yang kala itu hamba-Mu yang satu ini sedang membutuhkan ketetapan hati untuk menjawab kelanjutan ta'aruf, akankah disudahi atau dilanjutkan. Sungguh-sungguhlah bermunajat meminta petunjuk-Nya untuk sebuah keputusan penting di hidupmu. Foto di atas langsung saya capture di tanggal 27 Juli 2016 waktu menjelang subuh. Tepat sekali ketika ayat selanjutnya yang hendak akan saya tadaburi jatuh di surat An-Nisa : 1. Itu ayat yang pertama kali saya baca ketika membuka Al-Qur'an. Jawaban Allah bisa datang kapan saja dan dalam bentuk yang bermacam-macam.

"Allah sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Nya"

Nah yang masih suka berburuk sangka ke Allah, coba deh mulai dari sekarang ubah cara pikirnya. Allah itu Maha Baik, bahkan terlaluuuuuu baik (>,<) . Kita nya aja yang suka berfikiran negatif ke Allah.


"Jadilah kamu sebaik-baiknya pasangan yang akan mendampinginya kelak karena perjalanan kita bukan hanya di bumi tapi akan terus berlanjut hingga bertemu dengan-Nya. Carilah ia yang siap dan mau menjadi partner dunia akhiratmu. Bersabarlah wahai hati, akan ada masanya kamu akan merayakan cinta yang telah diridhai-Nya"

-Dila


"Halal is a must. Not just about what we eat, but also what we wear and what we love"

Thursday, December 15, 2016

Tentang J.O.D.O.H

Banyak orang yang kebingungan karena belum juga menemukan jodohnya, padahal sudah sangat ingin menggenapi hidupnya. Dulu aku juga pernah mengalaminya, sepanjang proses menemukan kamu. Eh, maaf, kamu tidak suka kalau aku bilang aku menemukan kamu. Katamu, jodoh bukanlah barang hilang yang harus ditemukan. Jodoh itu dipertemukan, karena siapapun dia, sudah Tuhan tetapkan semenjak kita berada dalam kandungan ibu. Hanya masalah waktu saja, Tuhan mempertemukan kita dengan orang itu. Jadi sebenarnya, kita tidak menemukan. Kita dipertemukan. Ada skenario Tuhan yang mengatur semuanya. Dan semuanya akan terasa lebih mudah jika kita mengikuti alurnya. Jika tidak? Kita hanya sedang mempersulit diri sendiri.

Sebagian orang mencari pasangan yang tepat untuk menggenapi hidupnya. Memilah-milih apakah seseorang tepat atau tidak untuk menghabiskan sisa usia bersamanya, merasa bahwa dirinya punya sepenuhnya hak untuk menentukan siapa jodohnya. Lupa bahwa yang memutuskan tepat atau tidak tepat untuk perkara jodoh itu Tuhan yang Maha Tahu, bukan kita yang egois dan banyak maunya ini. Belum mengerti bahwa kita akan benar-benar tahu seseorang itu tepat atau tidak untuk kita, setelah kita hidup menggenap dengan orang itu. Bukan dengan menerka-nerka apakah orang itu tepat atau tidak. Jikapun setelah menggenap kita merasa kurang tepat, kita punya banyak cara untuk memperbaikinya, untuk menjadikan rumah tangga kita jadi lebih baik, untuk membuktikan bahwa kita dan pasangan kita memang pasangan yang tepat, dan karena itulah Tuhan mempertemukan dan menjodohkan sepasang manusia. Kita dan pasangan kita. 

Pada akhirnya, jodoh kita adalah orang yang sah menggenapi kita. Seberapa dekatpun kita dengan seseorang, seberapa dalam dan lamapun kita berhubungan dengan seseorang, orang itu belum tentu menjadi jodohnya kita. Orang tersebut akan benar-benar menjadi jodoh kita, kalau sudah disahkan oleh aturan, aturan agama dan negara. Bisa jadi orang yang baru kita kenal, bahkan seseorang yang belum pernah kita kenal sebelumnya-lah yang ternyata sudah Tuhan siapkan untuk dipertemukan dengan kita, untuk saling menggenapi. Entah melalui perantara apa ataupun siapa.

"Setelah semuanya sah, cinta akan langsung menjelma menjadi tanggungjawab, menjadi hak dan kewajiban dalam keseharian. Toh, ada sepasang manusia yang dijanjikan berjodoh bukan hanya di dunia, tapi sampai di syurga kelak; sepasang manusia yang saling mencintai karena-Nya. Dan aku berharap bisa termasuk ke dalamnya.”
 
dikutip dari buku Genap by Nazrul Anwar